MediaBanten TVTausyiah

Ini Kurikulum Nabi Selama Bulan Puasa, Kata Ustad Adi Hidayat

Bulan puasa tahun 2022 sebentar lagi akan datang. Ustad Adi Hidayat memberikan kurikulum kegiatan Ramadan yang biasa dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Ustad Adi Hidayat (UAH) dalam Kanal Adi Hidayat Official di Youtube yang dikutip MediaBanten.Com, Senin (21/2/2022) menyampaikan lima hal yang sering dilakukan Nabi Muhammad SAW setiap masuk bulan Ramadan.

1. Interaksi dengan Al Quran

Nabi Muhammad SAW sangat intensif berinteksi dengan Al Quran pada bulan puasa. Bahkan, beberapa hadis menyebutkan, malaikat Jibril As selalu datang untuk mencek dan memverfikasi ayat Al Quran.

Pada bulan puasa (shiam) ini juga turun ayat pertama Al Quran dan diberikan malam yang istimewa dengan malam Lailatul Qodar. Keistimewaannya adalah malam itu dilukiskan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

2. Menggiatkan Sedekah (Infak)

Di bulan puasa, Nabi selalu menjadi lebih dermawan dengan mengeluarkan infak. Ustad Adi Hidayat mengingatkan, perbedaan infak dengan sedekah. Infak merupakan pemberian atau pengeluaran dalam bentuk materi. Sedangkan sedekah atau sodaqoh lebih bersifat umum, yaitu segala kebaikan. Kebaikan itu bukan hanya berbentuk materi, tetapi kegiatan ibadah dan yang non materi.

3. Banyak Menegar Kebaikan Secara Umum

Pada bulan puasa, Nabi Muhammad SAW selalu menebar kebaikan secara umum. Kebaikan berupa peningkatan ibadah, kelembutan dan tindakan-tindakan untuk sesama.

4. Meperbanyak Doa

Kata Adi Hidayat, pada bulan puasa merupakan kesempatan manusia untuk memperbanyak doa mulai dari minta ampunan maupun hajat-hajat tertentu.

5. Bertaqarub atau Mendekati Diri Kepada Allah SWT

Kesempatan bulan puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT baik melalui ibadah siang hingga malam.

Khusus Al Quran

Dalam kanal Youtube itu, Ustad Adi Hidayat membahas khusus tentang interaksi dengan Al Quran. Ini dikutip dari ucapan Ibnu Abas Ra, Nabi adalah orang yang paling lembut dan baik dan semakin baik ketika masuk bulan Ramadan.

Kebaikan itu dimetoforakan dengan bahasa, lebih lembut dari angin. Setiap datang malam-malam ramadan (ibadah malam), membaca Alquran. Nabi membaca Al Quran bersama malaikat Jibril As untuk mencek wahyu yang dilafalkan.

Pada malam Ramadan juga diturunkan Al Quran. Waktu prioritasnya malam, tidak dibatasi malam itu harus selesai. Tapi siang pun kalau punya waktu silakan dioptimalkan.

“Ada satu keluarga di Saudi bersengaja suaminya mengambil cuti saat ramadan untuk melakukan ibadah puasa pada siang dan malam hari,” kata Ustad Adi Hidayat.

Ustad Adi Hidayat menyebutkan ada tiga macam dalam berinteksi dengan Al Quran. Yaitu Qiroat (bacaan), Kajian dan Tahfidz atau hafalan.

Ustad ini memberikan metode untuk interaksi dengan Al Quran bagi yang masih disibukan kegiatan sehari-hari.

“Satu juz dibagi ke dalam 5 waktu solat wajib, berarti setiap solat dalam 28 ayat. Nah, ini bisa diringankan dengan cara 14 ayat sebelum solat dan 14 ayat setelah solat wajib. Dalam 30 hari, bisa mengkhatam 30 juz,” ujarnya.

Bagi orang yang qiroat diyakinkan akan mendapatkan barokah 3 hal. Pertama, pembaca Al Quran menjadi lebih lembut dalam akhlak atau perilakunya. “Jika ada pembaca Al Quran terlihat kasar, yakin ada yang salah dari cara qiroatnya,” ujarnya.

Kedua, pembaca Al Quran akan mendapatkan rahmat yang bermak luas. Rahmat yang nyaris tanpa batas. Namun harus diingat, Allah akan mengabulkan apa yang dibutuhkan manusia, bukan yang dimohonkan.

Ketiga, orang yang membaca Al Quran akan mendapatkan sifa atau obat. Obat itu untuk penyakit hati dan obat bagi penyakit yang sudah divonis medis tidak bisa disembuhkan.

“Kami ada pengalaman yang didokumentasikan. Ada di antara jamaah yang salah satu matanya sudah divonis tidak bisa sembuh. Dia melakukan ayat-ayat yang berkaitan dengan permohonan atas kesembuhan. Suatu saat matanya yang satu bisa melihat dengan izin Allah,” katanya.

Sedangkan untuk kajian bisa dilakukan dengan cara per surat. Misalnya mengkaji kandungan dan manfaat Alfatihah, surat yang merupakan intiasari dari Al Quran.

Ada kajian yang juga bersifat tematik. Misalnya bagi ibu rumah tangga tentu bisa mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan rumah tangga seperti kewajiban suami, isteri, anak dan ibu. “Jika dipraktikan, ini sungguh indah,” ujarnya.

‘Semua sisi kehidupan di Al Quran sudah ada, tinggal menurunkan dan mengkaji. Di hadis Bukhari itu sudah diklasifikasikan hadis-hadis yang merupakan penjabaran Al Quran,” ujar Ustad Adi Hidayat.

Puncak interaksi dengan Al Quran adalah tafhidz atau hafalan. “Menghafal itu tidak memiliki batas usia, mau anak-anak atau orang yang sudah tua,” ujarnya.

Namun Usatad yang lahir di Menes, Kabupaten Pandeglang ini mengingatkan, ahli Al Quran itu bukan seberapa banyak ayat yang dihapalkan, tetapi seberapa banyak ayat yang hafal itu dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. (Kanal Adi Hidayat Official / Editor: Iman NR)

Selengkapnya silakan lihat Kanal Ustad Adi Hidayat Official

SELENGKAPNYA
Back to top button