Disorot Tajam, Tingginya Pengangguran dan Kemiskinan di Banten

Pengangguran tertinggi di Indonesia dan kemiskinan di Provinsi Banten menjadi sorotan tajam dari Fraksi Partai Gerindra yang menggelar diskusi publik di Gedung Serbaguna DPRD Banten, Kota Serang, Kamis (12/12/2019).

“Angka kemiskinan tinggi dan pengangguran tertinggi di Indonesia. Sehingga mau dibawa kemana Provinsi Banten ini?” tanya Agus Supriyatna, Ketua Fraksi Partai Gerindra dalam diskusi refleksi akhir tahun 2019 untuk memberikan catatan penting bagi penguasa Pemprov Banten.

Agus menegaskan, salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan di sebuah daerah adalah kecilnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) dan angka kemiskinan. Ironisnya, selama 19 tahun Pemprov Banten dibentuk, tingkat pengangguran selalu menempati urutan paling atas di Indonesia.

Berdasarkan data BPS Banten, sebanyak 8,11 persen pengangguran terbuka Banten pada tahun 2019. Angka tersebut merupakan angka pengangguran tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia.

Baca:

Tidak Signifikan

Sedangkan Muhammad Nasir, pengamat pemerintahan mengemukakan, dalam kurun waktu empat tahun, penduduk miskin di Provinsi Banten tidak mengalami penurunan secara signifikan.

Pada September 2016, persentase penduduk miskin di Banten mencapai 5,36 persen. Pada tahun 2019 atau empat tahun kemudian, persentase penduduk miskin pada Maret 2019 mencapai 5,09 persen.

Selama empat tahun, penduduk Banten akan terus tumbuh. Ironisnya, persentase penduduk miskin menurun hanya 0,27 persen terhitung dari tahun 2016-2019. “Dalam empat tahun angkanya tidak turun-turun. Tetap diangka 659.644 orang,” kata Nasir.

Pengangguran Banten pun selama dua tahun terkahir menjadi perhatian khusus. Lantaran tetap setia menjadi peringkat tertinggi pengangguran dalam sekala nasional.

Menariknya kata Nasir, APBD Banten, yang juga selama empat tahun terakhir, hanya meningkat diangka minimum satu triliun saja.

Pengamat Politik dari Untirta Serang, Gandung Ismanto menuturkan, Banten masih menjadi daerah yang memiliki ketimpangan dan jauh dari kemajuan. “Ketimpangan itu masih diwariskan sampai sekarang,” ucap Gandung, yang juga merupakan salah satu narasumber diskusi publik.

Dikatakannya, Daerah lain jauh lebih maju dibandingkan dengan Banten. Ia menjelaskan, kemajuan Banten tidak sebanding dengan tantangan yang begitu berat dirasakan saat ini. Ditambah tuntutan publik yang makin tinggi.

“Dari pertama terbentuk (tahun 2000) sampai sekarang gitu-gitu saja, ga ada yang begitu dibanggakan,” tukasnya. (Menyenaw)

Next Post

Grup Nasyid Inteam Hanya Tampil di Taronto, Kanada

Kam Des 12 , 2019
Grup Nasyid Inteam hanya bisa memenuhi undangan tampil di Kanada untuk mengiisi acara Spirit of RIS 2019 di Taronto, Kanada, 20-22 Desember 2019. Sedangkan undangan ke Chicago (Amerika Serikat) tidak bisa dipenuhi karena VISA USA tidak lulus. “Semestinya kami juga ke Chicago karena ada undangan tampil untuk warga Indonesia dan […]
inteam tampil di taronto, kanada