Diterima ASN Kemensos Nomor Urut 1, Arya Jadi Pembicaraan KPM PKH di Banten

Arya Putra Nugraha (25 tahun) menjadi pembicaraan di kalangan Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) setelah diterima sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementrian Sosial di urutan pertama dengan formasi urut nomor 1. Pasalnya, Arya merupakan berasal dari KPM PKH atau keluarga miskin dari Kota Cilegon.

Arya Putra Nugraha lulus dari Universitas Indonesia (UI) melalui program beasiswa Bidik Misi. Arya merupakan salah satu anak dari 6 anak dari Ariful dan Euis Kurniasih yang tinggal di RT 03/RW 04, Kelurahan Jombang Wetan, Kota Cilegon. Keluarga ini menerima bantuan sosial PKH sejak tahun 2013. Sang ayah, Ariful berkerja serabutan setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah perusahaan. Sedangkan ibunya, Euis Kurniasi menderita penyakit kanker rahim.

Lidya Taurisya, pendamping PKH untuk keluarga Ariful-Euis membenarkan kegigihan keluarga ini dalam soal pendidikan. “Dari enam bersaudara, 4 anak perempuan atau kakak Arya sudah menikah dan tidak tinggal lagi dengan keluarga. Tinggal Arya dan adiknya, Ari. Arya sudah lulus dan diterima di UI, sedangkan Ari masih kuliah juga di UI. Keduanya kuliah melalui beasiswa program Bidik Misi,” kata Lidya.

Selain kuliah di UI, Arya ternyata menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Sebab ayahnya, Ariful lebih disibukan dengan mengurus ibunya, Euis Kurniasih yang berjuang melawan kanker rahim yang dideritanya. “Kabar keberhasilan Arya lolos CPNS dengan nomor urut 1 di Kemensos cepat menyebar di kalangan pendamping dan KPM PKH, pak. Jadi pembicaraan. Bagi kami sebagai pendamping ini juga membanggakan karena kerja sosial kami menampakan hasilnya,” katanya.

Baca: Gubernur Kukuhkan M Masykur Sebagai Kepala Perwakilan BPKP Banten

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Banten, Nurhana membenarkan soal Arya Putra Nugraha yang menjadi kebanggaan, sekaligus menjadi pembicaraan di lingkungan PKH. “Efek-efek poisitik seperti terjadi akibat keluarga penerima manfaat menunaikan kewajibannya, yaitu harus menyekolah anak-anaknya. Wajib bagi penerima bansos untuk menyekolahkan anaknya,” kata Nurhana.

Ini merupakan bukti bahwa program seperti PKH yang dibiayai kementerian sosial maupun jamsosratu yang dibiayai APBD sebagai sebuah program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga, sangat bermanfaat selain membantu memenuhi kebutuhan dasar juga memiliki multiplier effect yang sangat baik.

Nurhana berharap kesuksesan Arya masuk CPNS Kemensos dengan nilai tinggi dan menempati urutan pertama serta adiknya yang juga kuliah di Universitas Indonesia bisa menjadi motivasi bagi KPM PKH. Ini juga bisa menjadi cerita sukses dari program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga. “Program-program seperti ini harus mendapatkan dukungan dari semua pihak,” katanya.

Sementara itu, Budi Darma S, Kasi Jamsoskel Dinsos Banten mengatakan, kisah sukses Arya dan adiknya, Ari yang kuliah di UI merupakan bukti keberhasilan dalam menjalankan bantuan sosial (Bansos) baik melalui PKH maupun Jamsosratu. Karena itu, kenaikan besaran bansos Jamsosratu pada tahun 2019 tentunya akan memiliki efek yang signifikan bagi pengentasan kemiskinan.

“Melalui cerita sukses Arya beserta adiknya, kami berharap ini menjadi pemicu semangat para penerima manfaat program sejenis agar memiliki semangat yang sama dalam menghadapi kesulitan hidup, hal ini pun harus dimaknai bahwa setiap kita semua warga negara memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh kehidupan dan kesejahteraan sosial yang layak. Gubenrur dan Wakil Gubernur memiliki perhatian khusus terhadap hal seperti ini,” katanya. (IN Rosyadi)

Berita Terkait