Gubernur Banten Hadiri Dies Natalis ke-56 UIN Sulta Maulana Hasanuddin

Foto: Subag Peliputan dan Dokumentasi Pemprov

Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten hari ini merayakan Dies Natalis yang ke-56. Mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka yang berlangsung di Aula Syadzili Hasan UIN SMH Banten.

Tampak hadir Gubernur Banten Wahidin Halim, Rektor UIN SMH Banten Fauzul Iman, serta civitas akademika dan mahasiswa UIN SMH Banten. Dies Natalis ini kali mengangkat tema “Integrasi Keilmuan sebagai Destinasi Peradaban Islam Moderat”.

“56 tahun bukan usia muda tapi matang. Usia di mana kampus sudah harus selesai dengan dirinya sendiri dan menjadi lebih banyak memikirkan umat, komunitas, dan bangsa,” terang Sekjen mengawali orasinya, di Serang, Selasa (16/10/2018).

Nur Kholis menyampaikan, ada empat hal yang menjadi pesan untuk kampus islam negeri di banten ini, yaitu: keilmuan, keislaman, keindonesiaan, dan kemasyarakatan. Ia berpesan agar UIN SMH Banten mampu menjaga dan mengembangkan empat pilar tersebut.

“Perguruan Tinggi adalah institusi di mana para cerdik cendekia dan akademisi berkumpul, melakukan pendidikan dan pengajaran serta modifikasi ilmiah. Mahasiswa juga diajarkan melakukan kajian dan diskusi akademis sehingga core businessnya adalah keilmuan,” ujarnya.

Baca: Wagub Banten Luncurkan Aplikasi Sijelita di Plaza Aspirasi

Tapi, M Nur Kholis menggarisbawahi bahwa keilmuan tidak sekedar untuk ilmu, tapi juga untuk kemanusiaan. “Sehingga, paradigma berfikir UIN adalah mengembangkan keilmuan yang berorientasi pada kemanusiaan,” tegasnya.

Kedua, keislaman. Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), maka core businessnya adalah kajian keislaman. Pendidikan yang dikembangkan di UIN adalah kajian yang mampu mengarusutamakan moderasi beragama. Sebab, ini menentukan masa depan Indonesia, kerukunan umat beragama dan peradaban Indonesia di masa mendatang.

Pemikiran keislaman yang didalami fakultas keislaman, kata M Nur Kholis Setiawan, harus mampu mewujudkan pemikiran yang mengarah kepada moderasi beragama. “Misi pengembangan keilmuan UIN adalah bagaimana mampu berada di tengah, mampu mempertemukan dua kutub, literalis dan liberalis,” ujarnya.

Dikatakan Sekjen yang juga Guru Besar Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, para ulama terdahulu banyak mengajarkan bagaimana menjadi pihak di tengah. Imam Asy Syaukni misalnya, dalam Fathul Qadir juz pertama halaman 12 mengatakan, mufassir memberikan keterangan bahwa ada dua kutub yang berseberangan dalam memahami teks quran. Pertama, hanya mendasarkan diri pada riwayat. Kedua, hanya pada filsafat bahasa. “As Syaukani hadir untuk mempertemukan keduanya,” ucap M Nur Kholis.

“Keislaman di perguruan tinggi harus mampu menjadi feeder dan vitamin positif pengembangan moderasi beragama,” sambungnya.

Ketiga, keindonesiaan. Pemikiran keislaman yang dikembangkan UIN SMH adalah pemikiran yang berorientasi mempererat komponen seluruh bangsa sehingga NKRI maju karena kita tidak terus bertengkar. Sehingga tidak lagi ada ruang pemikiran anti NKRI. “Keindonesian harus menjadi bagian inheren kita semua sebagai ilmuan muslim,” tegasnya.

Keempat, kemasyarakayan. PTKI tidak boleh asyik di Menara Gading. Karya yang diterbitkan dan publikasi yang dihasilkan tidak boleh berorientasi pada ilmu semata, tapi juga merespon perkembangan zaman.

“PTKI mandapat tantangan luar biasa agar kajian keilmuan yang dikembangkan berdampak terhadap perkembangan masyarakat, merespon kebutuhan dan mengadvokasi publik terutama mustad’afin,” tandasnya.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan sebagai kampus negeri di banten, UIN SMH Banten bisa memberikan harapan dan sumbangsih dalam dunia pendidikan dan keislaman di provinsi banten. “Semoga UIN tambah jaya, berkembang dan menjadi rujukan masyarakat banten khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” katanya.

Sebagai Gubernur, dirinya sangat bangga karena di Provinsi Banten ini terdapat 136 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ini menandakan banten sudah menjelma sebagai kawasan pendidikan. “Karena muridnya dan mahasiswanya bukan datang dari banten sendiri tapi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. UIN dan juga Untirta telah banyak melahirkan alumni-alumni yang telah berperan dalam pembangunan kehidupan di provinsi banten,” kata Gubernur.

“Ini tentu selaras dengan RPJMD provinsi banten bahwa pendidikan menjadi prioritas utama, ini bukan hanya soal memperbanyak sekolah-sekolah tetapi membangun pendidika yang berkualitas,” sambung Gubernur.

Dies Natalis UIN SMH Banten diperingati setiap 16 Oktober. Hal itu merujuk kepada dikeluarkannya SK Penegerian oleh Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1962. (Subag Peliputan dan Dokumentasi Biro ARTP Pemprov Banten)

Berita Terkait