Murid SDN 2 Bayah Ikuti Simulasi Tanggap Gempa dan Tsunami

sdn 2 bayah barat tanggap darurat

Sedikitnya 300 murid SD Negeri 02 Bayah Barat, Kabupaen Lebak mengikuti simulasi tanggap bencana gempa tsunami yang diselenggarakan Kidzsmile Foundation dan Komunitas Jaga Balai serta Villa Hejo Kiarapayung, Sabtu (15/2/2020). Seluruh siswa dan para guru tampak antusias mengikuti kegiatan ini.

Dalam praktek simulasi, seluruh murid berlindung di bawah meja ketika peluit isyarat gempa ditiup. Tak lama berselang, sirine meaung-raung dan para murid berhamburan keluar membentuk barisan di lapangan. Secara cepat namun teratur para guru memandu masing-masing kelas menuju tempat evakuasi yang telah ditetapkan.

Ptrogram leader simulasi tanggap bencana, Idzma Mahayatika mengatakan, generasi emas yang kini duduk di bangku sekolah dasar harus mendapat prioritas pembekalan pengetahuan tanggap bencana. Kata dia, pihaknya belum sanggup membayangkan apa yang terjadi jika bencana terjadi pada saat kegiatan belajar.

“Siswa terutama yang kelas 1 dan 2 akan menangis panik tak mampu menyelamatkan diri. Kami tak sanggup membayangkan bagaimana para orangtua kehilangan putera-puteri terkasihnya dalam bencana. Itulah yang mendorong kami dari Bandung datang ke Bayah,'” tuturnya.

Baca:

Pengurangan Resiko

Pada sesi yang terpisah, dewan guru juga diberi materi pengurangan resiko bencana dan dilatih untuk dapat memastikan keselamatan peserta didik, pada saat gempa dan mengawalnya menuju tempat evakuasi manakala gempa berpotensi tsunami.

Supriana, Kepala SDN 02 Bayah Barat mengatakan, kegiatan yang pertama kalinya ini melibatkan seluruh murid dan para guru. Dia sangat mengapresiasi kegiatan itu, karena selain tugas utama mendidik, para guru juga berkewajiban mengayominya di semua situasi, terutama dalam keadaan darurat bencana.

Di tempat yang sama, Aan Anugrah, relawan Komunitas Jaga Balai menjelaskan, kegiatan seperti ini perlu direplikasi oleh sekolah-sekolah lain untuk kesiapsiagaan. Terlebih jika melihat data INARISK, banyak sekolah di Lebak Selatan berada di daerah zona merah tsunami.

Sementara Abah Lala, relawan dari komunitas Villa Hejo Kiarapayung berharap, wawasan kebencanaan ini terus dapat tersampaikan kepada masyarakat. Abah menepis anggapan bahwa kegiatan ini malah menakut-nakuti masyarakat.

“Jika kita tinggal di hutan yang masih banyak binatang buas, maka tentu kita tak akan serampangan tinggal. Rumah tentu akan dirancang tinggi agar binatang buas tidak mudah masuk menyerang. Seperti itu pula kita seyogyanya bersikap menghadapi potensi bencana gempa dan tsunami. Harus dibangun kesiapsiagaan untuk mengurangi resiko,” papar Abah Lala. (Rukman Nurhalim Mamora)

Rukman Nurhalim Mamora

Berita Terkait