Pembatalan Haji: Frustasi Bagi Jemaah dan Kesulitan Ekonomi Arab Saudi

pembatalan jemaah haji
pembatalan jemaah haji

Pembatasan haji tahun 2020 akibat pandemi tak hanya membuat jutaan jemaah frustasi. Pembatasan juga pukulan keras bagi perekonomian Arab Saudi. Visi ekonomi 2030 Arab Saudi menjadi buram.

Ibadah haji tahunan adalah kegiatan yang melibatkan jutaan manusia. Ibadah ini menjadi salah satu kerumunan orang terbesar di dunia. Namun, pada tahun 2020 kegiatan ini akan sangat berbeda.

Jika biasanya ada sekitar 2,5 juta Jemaah yang datang ke Arab Saudi dari seluruh dunia, maka di akhir Juli ini jumlahnya akan berkurang menjadi sekitar 1.000 orang saja. Semua ini karena pembatasan akibat pandemi COVID-19. Meski, pemerintah Arab Saudi belum mengumumkan angka pastinya.

Pembatasan ini tentu menimbulkan kekecewaan bagi Jemaah dari seluruh dunia. Juga menjadi “bencana” lokal bagi warga yang menggantungkan ekonominya pada sektor ibadah haji.

Dari Irlandia

Mohammad Tariq dari Masjid Cavan di Irlandia mengatakan teman-temannya yang berniat melakukan perjalanan ke Mekah. Perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji yang telah mereka impikan seumur hidup, harus tertunda.

“Mereka tidak sedih, mereka lebih dari itu. Seperti jika seseorang bersiap untuk melihat rumah Tuhan mereka dan mereka tidak bisa pergi,” ujar Tariq.

Perasaan frustasi yang dialami Jemaah yang gagal melaksanakan ibadah haji tahun 2020, tidak sama dengan perasaan kecewa hanya karena gagal berlibur musim panas, menurut Sean McLoughlin professor antropologi Islam yang mempelajari industri haji di Universitas Leeds di Inggris.

Ia menambahkan banyak Muslim yang telah memimpikan sejak lama untuk melaksanakan salah satu kewajiban utama di Islam itu.

Dampak Psikologis

“Sebenarnya ada dampak yang sangat besar – secara psikologis dan spiritual,” kata McLoughlin. Dalam sektor industri, hal ini adalah sesuatu yang sangat dikomersialkan dan sangat politis di banyak hal. Tetapi pada skala Jemaah sehari-hari, hal ini sangat berarti bagi mereka.

Baca:

Lembah luas yang biasanya tertutup tenda di Mina dan hotel-hotel mewah menjulang di sekitar Masjidil Haram kini tidak beroperasi. Keadaan di lokasi itu seperti kota mati.

Penduduk setempat yang bergantung pada sektor ibadah haji senilai US$ 10,6 miliar atau sekitar Rp 152 triliun sangat merasakan kerugian.

“Tentu saja, kami kecewa,” ujar Hashim Tayeb, yang terpaksa menutup toko parfumnya di kompleks mewah di depan masjid untuk sementara waktu.

Banyak yang Tutup

Banyak restoran, tempat pangkas rambut, dan bisnis lain tutup. “Pasti terkena dampaknya, terutama agen perjalanan,” sebut Tayeb.

Namun dia memaklumi pembatalan haji ini dilakukan demi keamanan di tengah pandemi. Jika kegiatan haji tetap dilakukan, di mana orang saling berdempetan, maka bisa menjadi bencana baru bagi negara yang telah memiliki lebih dari 190 ribu kasus COVID-19 ini.

Pembatalan umrah sejak awal Maret yang menyumbang 20% dari PDB industri non-minyak di Arab Saudi. Pembatalan umrah juga telah menambah kerugian yang lebih luas.

Seorang pengemudi asal kota Madinah – tuan rumah lokasi ibadah haji – mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya telah menganggur selama empat bulan. “Kami dulu bekerja setiap hari, itu adalah mata pencaharian kami,” kata pria yang tidak ingin disebutkan namanya itu.

Proyeksi IMF

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan kontraksi sekitar 6,8% untuk ekonomi Arab Saudi tahun 2020. Ini sebagai akibat dari penurunan bersejarah dalam harga minyak dan kerugian lain yang ditimbulkan karena pandemi COVID-19

Arab Saudi telah melakukan langkah-langkah penyelataman ekonomi. Misalnya penambahan tiga kali lipat pajak pertambahan nilai (PPN) pada tanggal 1 Juli dan pemotongan tunjangan pemerintah. Hal ini berdampak pada jumlah belanja konsumen warga Arab Saudi. Belanja konsumen ini telah menurun lebih dari 34% pada bulan April dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.

Penutupan haji dan umrah menjadi pukulan keras bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Semula, Putra Mahkota berencana mendiversifikasi ekonomi lepas dari minyak, menurut antropolog McLoughlin.

Menurut hasil penelitian McLoughlin tahun 2019, rencana itu melibatkan peningkatan kuota tahunan haji menjadi 6 juta orang dan jemaah umrah menjadi 30 juta orang pada akhir dekade ini. “Ekonomi (Arab Saudi) mungkin akan kembali, tetapi tidak mungkin pada skala yang diperkirakan pada tahun 2030,” ujarnya.

Tantangan MBS

Ini akan menjadi tantangan bagi kepemimpinan MBS. Terutama masalah yang dihadapi generasi mudanya karena visi 2030 menjadi sulit tercapai dan sektor pariwisata juga kesulitan.

“Ujian hebat untuk MBS adalah apakah dia bisa menyelamatkan anak-anak muda, dengan pekerjaan di sektor swasta,” tulis Andras Krieg, asisten professor di King’s College London, di outlet berita Middle East Eye.

Di tengah tuntutan ekonomi, hingga kini belum jelas kapan pihak berwenang akan membuka kembali kegiatan ibadah haji.

McLoughlin mengatakan para Jemaah, operator tur dan hotel di Mekah bersikap seolah-olah industri akan dibuka kembali akhir tahun ini.

Insiden terowongan Mina tahun 2015 yang disebut sebagai salah satu tragedi bencana terbesar dalam sejarah haji, menuntut otoritas Arab Saudi untuk terus berbenah.

“Reputasi Arab Saudi sudah dipertanyakan lewat banyak kritik,” kata McLoughlin.

“Tetapi bagi Jemaah biasa, ini tidak mengalahkan cinta mereka, keinginan mereka, emosi mereka, keterikatan mereka, kerinduan mereka untuk berada di tempat-tempat suci, untuk mengunjungi rumah Tuhan dan untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad. Dan ini sangat, sangat signifikan dalam hal prospek jangka panjang pariwisata religius.”.

Artikel ini dimut di dw.com, lihat aslinya KLIK DI SINI. (IN Rosyadi)

Berita Terkait