Presiden Anugrahkan Gelar Pahlawan Pada KH Brigjen Syamun

Foto: Istimewa

Presiden RI, Joko Widodo menganugrahkan Gelar Pahlawan kepada enam tokoh di Istana Negara, Kamis (8/11/2018). Di antara tokoh itu terdapat nama Brigjen KH Syamun yang merupakan pejuang kemerdekaan yang menentang kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Banten.

Keenam tokoh yang dianugrahkan Gelar Pahlawan oleh Presiden RI itu adalah Abdurahman Bawesdan dari Yogyakarta, Agung Hajah Andi Depu dari Sulawesi Barat, Depati Amir dari Bangka Belitung, Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Kalimantan Selatan dan Brigjen KH Syamun dari Banten.

Penganugrahan Gelar Pahlawan itu melalui Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/Tahun 2018 pada tanggal 6 November 2018. Acara penyerahan ini sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2017.

Keterangan yang dihimpun MediaBanten.Com menyebutkan, Brigjen KH Syamun adalah pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon. Syamun lahir pada 5 April 1894 dari pasangan taat beragama H Alwiyan dan Hj Hajar. Brigjen KH. Syamun masih keturunan dari KH. Wasid tokoh “Geger Cilegon” 1888 (perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda).

Pada umur 11 Tahun, KH. Syamun melanjutkan studi ke Mekkah (1905-1910) dan berguru di Masjid Al-Haram tempat ahli-ahli ke-Islaman terbaik di dunia berkumpul membagi ilmu. Pendidikan akademinya dilalui di Al-Azhar University Cairo Mesir (1910-1915).

Baca: Pj Sekda Lantik Puluhan Pejabat Fungsional di Plaza Aspirasi KP3B

KH Syamun pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta), sebuah gerakan pemuda bentukan Jepang. Dalam Peta, jabatan KH Syamun adalah Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I Peta wilayah Serang. Selama menjadi Dai Dan Tyo KH. Syam’un sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang. Keterlibatan KH. Syam’un dalam dunia militer mengantarkannya menjadi pimpinan Brigade I Tirtayasa Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kemudian berganti menjadi TNI Divisi Siliwangi.

Karier KH Syamun di militer terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949. Pada awal Kemerdekaan, KH.Syamun berhasil meredam gejolak sosial di Banten, peristiwa itu terkenal dengan peristiwa Dewan Rakyat pimpinan Ce Mamat. Pada Tahun 1948 meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH. Syamun bergerilya dari Gunung Karang Kabupaten Pandeglang hingga kampung Kamasan Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Daerah ini menjadi tempat tinggal salah satu gurunya KH. Jasim. Di Kampung ini juga, Brigjen KH Syamun meninggal pada Tahun 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan. Pada saat meninggal, pangkat militer KH Syam’un adalah Kolonel, kerena jasa jasanya, kemudian mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi Brigadir Jenderal Anumerta. (Antara / IN Rosyadi)

Berita Terkait