PVMBG: Masyarakat Lebak Selatan Diminta Waspadai Gempa Susulan Berskala Kecil

Foto: BMKG

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat jangant terpancing isu yang tidak bertangungg jawab terkait gempa yang terjadi di wilayah selatan Kabupate Lebak, Minggu dinihari (14/10/2018). Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap perkiraan terjadinya gempa susulan yang sekalanya lebih kecil.

PVMBG dalam siaran pers yang dikutip MediaBanten.Com, Senin (15/10/2018/ memastikan gempa bumi ini tidak memicu tsunami karena walaupun pusat gempa berada di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk membangkitkan tsunami. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

Gempa bumi dengan magnitudo 5,2 Skala Richter, mengguncang wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Minggu (14/10/2018) pukul 02:38:23 WIB. Belum dapat informasi apakah gempa bumi berdampak pada kerusakan dan korban jiwa.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Stasiun Serang, Trian Asmarahadi mengatakan gempa yang berlangsung selama beberapa detik ini berpusat di 292 km Barat Daya Kabupaten Lebak, pada kedalaman 10 km. Lokasi gempa berada pada 9.00 LS, 105.26 BT.

Baca: Korps Marinir Bersihkan Pantai Talise Bekas Gempa dan Tsunami

“Pusat gempa berlokasi di 9.00 Lintang Selatan dan105.26 Bujur Timur, atau 292 km Barat Daya Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dengan kedalaman 10 km. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, jadi warga masyarakat tidak perlu merasa kuatir atau cemas, meskipun harus tetap waspada,” kata Trian kepada wartawan melaui sambungan telepon.

“Berdasarkan informasi dari The United States Geological Survey , Amerika Serikat melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,955 LS dan 105,369 BT, dengan magnitudo M 5,0 dan kedalaman 4,1 km,” demikian rilis yang diterima dari PVMBG.

Kondisi geologi daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, yaitu pesisir selatan Banten, secara umum tersusun oleh batuan sedimen berumur Tersier, serta batuan Kuarter berupa batuan gunungapi dan batuan sedimen serta endapan alluvium.

Guncangan gempa bumi biasanya akan terasa lebih kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan. Gempa bumi berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.

Gempa bumi terjadi akibat reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit (trench) laut dalam. Berdasarkan informasi GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman, sesar penyebab gempa ini mempunyai mekanisme sesar normal dengan orientasi baratlaut-tenggara. (Yono /IN Rosyadi)

Berita Terkait