KesehatanLingkungan

RSUD Banten Hasilkan Satu Ton Limbah Infeksius Covid 19 Per Pekan

Sejak ditetapkan sebagai rujukan penanganan Covid 19, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten menghasilkan limbah infeksius atau medis sebanyak 300 Kg per hari. Dalam satu pekan, limbah yang diktagorikan bahan berbahaya dan beracun (B3) itu mencapai 1 ton lebih.

Direktur RSUD Banten, Danang Hamsah Nugroho mengatakan, limbah infeksius itu merupakan seluruh aktivitas medis dalam penanganan covid 19. “Rata-rata ada 300 kilo sehari, seminggu satu ton lebih,” kata Danang seperti yang dikutip MediaBanten.Com dari detik.com, Kamis (11/6/2020).

Selain limbah medis yang berkaitan dengan pengobatan dalam penangan covid 19, limbah itu termasuk bekas makan, sisa makanan, wadah sampai ke alat pelindung diri yang digunakan oleh para perawat yang melakukan kontak dengan pasien.

Di RSUD, limbah ini kemudian dibawa oleh pihak ketiga untuk kemudian dihancurkan. Namun sebelum diambil, limbah dikumpulkan dan dibungkus menggunakan kardus dan diberi disinfektan. Sehingga, saat keluar, limbah ini sudah terbebas dari virus.

Baca Juga:   Persyaratan Calon Penumpang Pesawat Lion Air Group Pada New Normal

Baca:

Tidak Memiliki Alat

Memang, kata Danang, RSUD Banten sendiri tidak memiliki alat insinerator untuk memusnahkan limbah tersebut. Perlu pihak ketiga dari PT Wastec untuk melakukan pengelolaan sampai penghancuran. Sampah dibawa setiap hari di waktu tertentu untuk dihancurkan.

Dari seluruh rumah sakit daerah di Banten, hanya RSUD Malingping di Lebak yang memiliki pengelolaan limbah dan alat insinerator untuk memusnahkan limbah infeksius. Menurut Danang, ada alasan sendiri kenapa rumah sakit di perkotaan tidak mengelola limbah secara mandiri.

Di samping itu, selain memerlukan alat, perlu ada izin jika rumah sakit bisa mengelola limbah secara mandiri. Ada hitung-hitungan resiko kenapa hanya satu rumah sakit yang menggunakan alat ini.

Baca Juga:   Mensos dan Wagub Bawa Berobat 4 Anak Penderita Gizi Buruk ke RSUD Banten

“Tapi tentu kalau menerbitkan izin insinerator di (RS) perkotaan pasti ada kajian meminimalisir, tapi nanti diizinkan berarti ada mekanisme agar resiko itu minimal,” ujar Danang.

RSUD Banten ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan pasien covid 19 sejak merebaknya vierus tersebut. Direktur RSUD Banten, dr Danang Hamsyah Nugroho membenarkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten telah “mengosongkan” pasien non virus corona atau Covid 19 ke rumah sakit lainnya. Selanjutnya, RSUD Banten akan dikhususkan untuk menangani pasien corona.

Danang mengatakan, pasien non corona itu dipindahkan ke RSUD Kota Serang, RS Sari Asih dan sejumlah rumah sakit lainnya. “Insya Allah, dalam waktu dekat, kami sudah siap untuk mengoperasikannya,” katanya.

Sebelumnya, RSUD Banten di Jl Syekh Nawawi Al Bantani ditetapkan menjadi rumah sakit khusus penanganan virus Corona atau Covid-19. RSUD memiliki kapasitas 250 ranjang perawatan dan akan diaktifkan mulai Rabu (25/3) pekan ini. (Rivai Rivai)

Baca Juga:   Kolatmar Nilai Drill Penyiapan Personel Penanganan Covid 19

SELENGKAPNYA
Back to top button