Opini

Siasat Politik dan Benar – Salah

Siasat politik dan benar – salah adalah dua dimensi yang mesti dilihat dari perspektif dan momentum yang tidak dapat bersamaan. Biasanya siasat politik akan bermain di koridor hukum yang diakui dan tidak melanggar ketentuan kendati terdapat pelanggaran etika politik.

OLEH: ANDIKA HAZRUMY *)

Biasanya pula kebenaran dan salah tidak akan selalu linier dengan polarisasi politik yang terbentuk antara kelompok politik yang berbeda, diantara pendukung kelompok politik yang berbeda dan diantara intelektualitas yang berbeda.

Politik tidak bisa hitam dan putih. Banyak momentum politik yang telah lalu masih sulit ditelaah dimensi kebenaran dan salahnya. Banyak pula perjalanan kekuasaan yang terkesan dan terlihat tidak bisa membedakan benar dan salah secara etika dan estetika, kendati semua tunduk pada kehendak politik hukum yang integratif.

Bisa jadi kebenaran politik baru akan muncul dan terkuak pada beberapa generasi mendatang, demikian pula sebaliknya, bisa jadi kesalahan politik baru terungkap setelah melewati beberapa dekade mendatang.

Satu hal yang bisa dipastikan bahwa perspektif benar dan salah dalam politik akan sama kuatnya. Melemahnya atau menguatnya suatu kebenaran atau perspektif kesalahan akan tergantung pada kekuatan dan kemenangan kelompok politik mana yang mengusungnya.

Kekuasaan akan menentukan kebenaran sejarah, nampaknya bukan isapan jempol. Disinilah kekuasaan menjadi “harga mati” bagi kelompok-kelompok politik yang merasa harus berkuasa. Apapun alasannya.

Panggung belakang politik bisa jadi berisi pergumulan siasat yang lebih “kejam” dan tidak berparameter benar – salah, namun ketika menjadi siasat yang akan dipertontonkan oleh publik, akan dikemas oleh etika dan estetika di bawah formalitas payung hukum yang dianggap sah.

Karena siasat politik tidak hanya berisi strategi bagaimana mencapai suatu kemungkinan dari hal yang belum mungkin, tetapi juga mesti menampilkan nilai yang sebisa mungkin dapat perhatian dan pembelaan publik.

Di antara siasat politik dan benar – salah, maka informasi publik bersifat ambigu. Kebenaran dan ketidakakuratan informasi tersebut menjadi parsial. Tergantung siapa yang menyampaikan.

Kebenaran akan sangat tergantung dari akumulasi dukungan politik yang terjadi. Pihak yang dipersalahkan juga akan sangat tergantung dari kemampuan melakukan “pendekatan-pendekatan” dalam konteks yang dibutuhkan. Telah lama kebenaran dalam politik bukan saja bersifat relatif tetapi juga parsial.

Pertanyaannya bagaimana masyarakat bersikap dalam melihat dan menyikapi siasat politik dalam kontestasi serta menyelami kebenaran di dalamnya?

Karena informasi di lingkaran utama kekuasaan dan elit politik seringkali berada dalam ruang gelap dan menjadi informasi publik setelah dikemas, maka perlu waktu yang lama untuk mempelajari apa yang terjadi.

Perlu waktu lama untuk menguji informasi dan sikap elit politik. Selalu ada dua sisi yang berbeda dalam satu mata uang yang sama. Selalu ada dua fanatisme yang berbeda dalam satu permasalahan yang sama.

Sayangnya informasi politik akan diterima oleh keyakinan dan subjektifitas karena persoalan nilai maupun kesamaan pandangan bukan karena logika.

Oleh karena itu, skeptis dan kritis menjadi jalan tengah serta sikap terbaik untuk mencerna informasi politik. Kehati-hatian menjadi penting untuk mendapatkan kebenaran dari suatu momentum politik. (**)

*) ANDIKA HAZRUMY adalah akademisi sekaligus politisi muda yang pernah menjadi Wakil Gubernur Banten. Dan saat ini tengah bersiap kembali mengikuti kontestasi pada Pemilu 2024.

Iman NR

Back to top button