Yandri Susanto Sesalkan Sukmawati Soal Suara Adzan dan Cadar

Foto: Sofi Mahalali

Yandri Susanto, anggota DPR RI dari Fraksi PAN menyesalkan Sukmawati Soekanro Putri, anak Presiden Pertama Indonesia, Soekarno yang membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” pada acara Indonesia Fahsion Week, pekan lalu.

“Sebaiknnya ibu Sukmawati Soekarno Putri mencabut, dan meminta maaf. Supaya kehidupan berbangsa dan bernegara, Kehidupan beragama, kemudian antar golongan ini bisa rapih dan tidak terkoyak-koyak. Karena issue-nya ini sangat sensitif,” ujar Yandri Susanto seusai kegiatan sosialisasi 4 pilar kebangsaan yang diselenggrakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Banten, di Gedung Kopri, Kota Serang. Selasa, (3/4/2018).

Sementara itu, dari halaman akun FB milik Tjahya Gunawan menyebutkan, Muhammad Subhan didampingi advokat dari Asosiasi Pembela Islam melaporkan Sukmawati Soekarno Putri ke Bareskrim Polri, Selasa (3/4/2018) atas penulisan dan pembacaan puisi berjudul Indonesia pada acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week. Puisi yang dibacakan itu berisikan konten yang merendahkan ajaran Agama Islam terkait adzan dan cadar. Sukmawati melalui puisinya telah menunjukan sikap kebencian dan menista agama sesuai pasal 156a KUHP dengan ancaman maksimal 5 tahun.

Yandri Susanto dalam kesempatna itu mengapresiasi ada anak bangsa  yang menempuh jalur hukum dengan melaporkan kepada kepihak berwajib. Dia setuju dan mendukung. Pasalnya langkah tersebut merupakan cara-cara yang sangat Pancasilais, karena tidak dilakukan dengan anarkis dan brutal.

Baca: Simulasi Pengamanan: Ketua Panwaslu Kota Serang Disandera

“Sekarang kan bola ada di pihak kepolisian sama ibu sukmawati sendiri. Kalau saya berharap sekali ibu Sukmawati meminta maaf secara terbuka bahwa itu merupakan sebuah kekhilafan, dan tidak mengulangi lagi di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.

Yandri berpendapat, isi Puisi “Ibu Indonesia” telah mengusik  rasa keberagaman bangsa ini, terutama dari kalangan umat yang cukup atau paling besar sumbangsihnya terhadap republik Indonesia. Dalam puisi itu, suara adzan dinilai lebih rendah, dan konde bisa mulia dari pada cadar. Padahal cadar menurutnya merupakan syariat Islam dalam menutup aurat.

“Dari puisi itu kan suara adzan lebih rendah nilainya daripada suara kidung, dan lebih enak mendengarkan lantunan kidung daripada suara adzan yang tidak merdu itu. Konde bisa lebih mulia daripada cadar, itu kan syariat Islam untuk menutup aurat. Masa masa lebih mulia orang yang membuka aurat,” ujarnya. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait