IBI Kota Serang Siap Tekan Angka Kematian Bayi

Ikatan bidan Indonesia (IBI) Kota Serang mengaku siap menekan angka kematian ibu dan bai di Kota Serang. Demikan dikatakan ketua IBI Kota Serang Anah Rohanah, saat ditemui seusai acara peletakan batu pertama Sekretariat IBI Cabang Kota Serang, di Jalan Jendral Sudirman Kampung Kemang Kelurahan Penancangan Kecamatan Cipocok Jaya, Rabu (13/3/2019).

Anah mengatakan,untuk menekan angka kematian ibu dan bai tersebut, pihaknya memiliki Program Pencegahan Penanganan Komplikasi (P3K). Selain itu, dengan jumlah bidan sebanyak 930 orang di kota serang, ia merasa untuk sumber daya manusia telah dirasa cukup.

“Jadi si ibu hamil nantinya kita deteksi sejak awal tentang resiko yang akan dialami. Misalnya dia hamil dengan resiko hipertensi dan lain-lain, tentunya akan mendapat lebih banyak pendampingan dari teman-teman bidan,” katanya.

Anah mengatakan, untuk kendala yang dihadapi yakni keberadaan bidan masih banyak terfokus di wilayah kota. Sementara untuk diwilayah pelosok masih harus menjadi perhatian. Selain itu kendala yang dihadapi di daerah pinggiran kota, akses transfortasi masih terbilang susah. Kemudian kopetensi dari bidan sendiri harus mengalami peningkatan kaitan dengan mendeteksi ibu hamil dengan resiko tinggi.

Baca: Bidan Desa Wily: “Bertarung” Menaklukan Kerusakan Parah Akses Jalan di Lebak

“Jadi itulah, kita sering melakukan pembinaan, bagaimana mereka (bidan) ketika ada ibu hamil datang ke tempat prakteknya, harus mengetahui apakah ibu hamil tersebut telah mendapatakan pemeriksaan selama empat kali selama kehamilan, dan juga ketika menemukan ibu hamil mengalami resiko tinggi. Para bidan arus mengetahui apa yang mereka harus lakukan,” katanya.

Selain itu, Anah mengatakan, untuk di kota Serang masih ada yang melakukan persalianan dengan paraji. Akan tetapi, pihaknya sudah melakukan kemitraan, sehingga ketika membantu persalinan harus bekerjasama dengan bidan sebagai tenaga kesehatan. Ana menyebutkan, untuk ibu hamil yang berada diwilayah pojok di Kota Serang, masih ada yang yang susah untuk dibawa ke Fasilitas kesehatan (Faskes).

“Padahal untuk di Kota Serang masalah biaya tidak menjadi permasalahan. Karena sudah ada jampersal, dimana untuk biaya persalianan itu gratis. Asalkan ketika melakukan persalianan itu di fasilitas kesehatan. Untuk di rumah sakit sendiri, itu padahal bias dipergunakan pula,” ujarnya.

Ia mengatakan, program Jampersal tersebut pihaknya telah bekerjasama dengan beberapa Rumah Sakit (RS). Seperti Rumah Sakit Hermina di Ciruas, RS Ibunda, RS Fatimah, RS Budiasih, dan RS Drajat Prawira. Meski demikian, fasilitas gratis tersebut tetap saja membuat masyarakat kadang malas untuk melakukan persalinan di Faskes. Hal itu bukan tanpa alasasn, dikarenakan masyarakat ketika melahirkan di Rumahnya itu tidak merasa repot.

”Masyarakat alasannya, biasanya malas repot. Karena kalau di rumahnya merasa sudah ada segalanya. Ditambah lagi mereka berpikir ketika melakukan persalinan memang biayanya gratis. Akan tetapi untuk makan dan ongkos yang nungguin itu tidak ada. Itulah persoalannya,” ujarnya. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait