Irnawati, Penerima Jamsosratu Kini Mulai Produksi Jahe Instan

Foto: Istimewa

Irnawati dan suaminya, Ruhiyat sebagai penerima bantuan non tunai Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu) kini memiliki kesibukan memproduksi jahe instan atau dikenal jahe emprit di Kampung Soge RT 012/RW 004, Desa Talok, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Usahanya dikatagorikan usaha mikro dengan modal yang tidak besar.

Dari rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu, kayu dan setengah tembok, sering tercium wangi jahe yang tengah diproses menjadi jahe instan. Proses produksi itu mulai dari pembersihan jahe, pemarutan hingga pemasakan sari pati jahe. Sari pati jahe itu dikristalkan, kemudian dikemas dengan pengemasan yang baik.

Menurut Irnawati, produksi Jahe Instan atau jahe emprit masih belum diproduksi setiap hari, masih mengandalkan pesanan. Harga jahe instan sekitar Rp10.000 dalam kemasan 100 gram dan Rp50.000 dengan kemasan 500 gram. “Ini pemasaran juga melalui ke WA dan Facebook,” kata Irnawati.

Irnawati tercatat sebagai penerima program bantuan non tunai bersyarat dari Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu) dari Pemerintah Provins (Pemprov) Banten sejak tahun 2016. Namun kegiatan usahanya merupakan hasil sinergi dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tangerang. Irnawati dan suaminya mengikuti pelatihan produksi dan pengemasan Jahe Emprit yang dilakukan dinas tersebut. Produk Jahe Emprit produksi Irnawati sekarang menjadi produk binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tangerang.

Baca: Polda Papua Berdayakan Masyarakat Melalui Kopi Lany Jaya Berkualitas Dunia

Sebagai penerima bantuan non tunai, Irnawati juga membuktikan, bantuan tersebut tidak percuma diberikan kepada dia dan keluarganya. Salah satu syarat penerima bantuan non tunai Jamsosratu adalah keharusan menjaga kesinambungan sekolah anak-anaknya. Malah anaknya, Rasya Putra yang diduduk di kelas IV SDN Renged II selallu mendapatkan rangking kedua dan ketiga di kelasnya.

Bantuan non tunai dari Jamsosratu pada tahun 2017 senilai Rp2,25 juta per tahun. Bantuan itu diterima dalam tiga tahap yang disesuaikan dengan kebutuhan dan sistem keuangan dari Pemprov Banten. Pada tahun 2018, jumlah bantuan non tunai itu turun menjadi Rp1,665 juta setahun.

Budi Darma S, Kepala Seksi Jamsoskel Dinas Sosial Provinsi Banten mengaku merasa bangga dan sangat bahagia melihat adanya kemauan dan kemampuan penerima manfaat jamsosratu untuk berusaha bangkit dari keterpurukan.

“Setidaknya ini membuktikana perubahan mindset ini berkat program Jamsosratu dan PKH, seperti diketahui bersama bantuan sejenis baik itu Jamsosratu maupun PKH memang salah satunya bertujuan untuk merubah mindset warga kurang mampu penerima manfaat untuk bangkit dari keterpurukan,” kata Budi. (IN Rosyadi)

Berita Terkait