MediaBanten TV

Lulu: Banten Sibuk Bangun Stadion Rp1 T, Lupa Rumah Singgah Pasien

Lulu Jamaludin, Pendiri Rumah Singgah Pasien Relawan Fbn menyesalkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten tidak membuat rumah singgah bagi pasien yang akan berobat di Jakarta. Padahal provinsi lain sudah ada seperti Pemprov Lampung, Bintan, Jawa Barat dan lainnya untuk kepentingan warganya.

“Pemprov Banten lebih sibuk membangun stadion internasional yang berbiaya hampir 1 triliun rupiah, tidak perduli dengan pembangunan rumah singgah yang biayanya Rp4-6 miliar. Padahal rumah singgah pasien itu langsung bersentuhan dengan masyarakat yang tidak mampu,” kata Lulu Jamaludin.

Penyesalan Lulu Jamaludin itu disampaikan ketika berbincang-bicang di Kanal BantenPodcast di Youtube yang dikutip MediaBanten.Com, Rabu (27/10/2021). Bincang-bincang itu dipandu host, Ikhsan Ahmad, Pengamat Kebijakan Publik.

Penyeselan juga disampaikan Lulu terhadap ketiadaan rumah singgah di Kota Serang. “Karena itu, kami mendirikan rumah singgah untuk membantu warga berobat di sejumlah rumah sakit di Kota Serang. Tidak ada rumah singgah yang dibangun oleh pemerintah untuk keperluan itu,” katanya.

Rumah Singgah Pasien Relawan Fbn itu terletak di Jalan Gelatik, Tegal Padang, Kelurahan Drangong, Kota Serang. Rumah singgah ini masih sederhana, hanya satu lantai dan terdiri 4 kamar. Rencananya rumah singgah ini 2-3 lantai dengan banyak kamar untuk keperluan pasien.

Pendirian rumah singgah pasien itu berdasarkan pengalamannya 20 tahun lalu ketika mengantarkan pasien dari Pandeglang berobat di sebuah rumah sakit di Jakarta. “Saya lihat Provinsi Lampung, Bintan dan Jawa Barat punya rumah singgah khusus warganya yang sedang berobat di Jakarta. Biaya di rumah singgah itu dikaver oleh pemprov masing-masing. Sedih saya, Pemprov Banten tidak punya hingga sekarang,” ujarnya.

Baca Juga:   Pemprov Dinilai Belum Memiliki Niat Baik Izin Ke Pemilik Tanah Revitalisasi Banten Lama

Rumah Singgah yang didirikan relawan Fbn itu memang dikhususkan bagi pasien dari luar Kota Serang. Misalnya warga Lebak, Pandeglang atau Anyer mau berobat di Kota Serang biasanya dapat jadwal berobat atau pemeriksaan dokter pagi hari.

“Kalau mereka berangkat dari kampung, pasti terlambat. Mereka silakan nginap di rumah singgah, kami akan mengantarkan ke rumah sakit yang dituju. Juga demikian soal pasien yang dirawat, biasanya keluarga yang boleh menunggu itu hanya satu orang. Mereka silakan menginap di rumah singgah. Semua gratis,” katanya.

Lulu menceritakan, kondisi pasien yang datang ke rumah singgah umumnya sudah parah. Mereka tidak bisa duduk, terbaring, patah tulang, tumor dan lainya. Sebanyak 90 persen mempunyai penyakit parah yang berobat di Kota Serang atau ke Jakarta. Keluarga pasien itu tidak mungkin tinggal di rumah sakit, karena hanya 1 orang dibolehkan menunggu pasien.

Baca Juga:   Video Wagub Banten: Dana Bosda Harus Ditransfer Setiap Bulan Ke Sekolah

“Kalau diperhatikan, setiap malam di RSUD Serang atau dr Prawira Drajat, terlihat keluarga pasien tiduran di pinggir atau lorong-lorong. Mereka rata-rata keluarga tidak mampu, tidak bisa tinggal di hotel atau tidak memiliki keluarga,” katanya/

Ini terjadi karena di rumah sakit tidak ada satu pun rumah singgah yang dibuat untuk keperluan tersebut. Mereka rata-rata keluarga yang tidak mampu yang biaya tersebut menjadi “momok” bagi mereka.

Lulu Jamaludin membenarkan, rumah singgah pasien relawan Fbn ini memang belum diumumkan secara resmi kaerna fasilitasnya masih kurang dan baru berdiri 3 tahun. “Prosesnya pembangunannya terus berjalan,” katanya.

Ketika ditanya soal biaya? “Semua dari Allah SWT yang menggerakan orang-orang baik untuk mengulurkan tangan. Biaya itu untuk operasional ambulans, biaya makan dan keperluan pasien dan keluarganya yang akan berobat di Kota Serang,” katanya.

“Saya pernah mengusulkan soal rumah singgah pasien, termasuk menyampaikan ke Ketua DPRD Banten dan waktu zaman Rano karno, pernah membahas soal rumah singgah. Hanya wacana-wacana, tidak sampai puluhan miliar apalagi sampai 1 triliun,” katanya.

Baca Juga:   Pemprov Banten Benahi Dana Hibah dan Bansos

Pernyataan Lulu yang lain adalah soal berobat gratis hanya dengan KTP. “Itu janji politik saat kampanye dari Wahidin Halim dan Andika Hazrumy. Itu janji yang bohong besar, tidak ada realisasinya, apapun alasan yang dibuatnya,” kata Lulu. (Editor: Iman NR)

Silakan ikuti bincang-bincang secara lengkap di Kanal BantenPodcast Yotube. Jangan lupa like dan subscribe.

SELENGKAPNYA
Back to top button