Siswa Pukul Guru Hingga Tewas, Siapa yang Salah?

Foto: Ilustrasi

Kasus murid SMAN 1 yang terjadi di Torjun, Sampang, Madura dengan inisial H2F, dimana murid memukul gurunya Achmad Budi Cahyanto hingga meninggal dunia ini terjadi sebab siswa pada zaman sekarang kurang hormat terhadap guru. Padahal budaya kita yaitu menghormati orang tua dan guru.

Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat. Berikut dari beberapa sumber :

* Menurut pengamat pendidikan Achmad Muhlis, peristiwa memalukan tersebut mengindikasi telah terjadi pergeseran nilai dalam pendidikan. Menurutnya, maraknya perlawanan terhadap guru juga menjadi implikasi dari undang-undang perlindungan anak. Anak atau orang tua tidak begitu paham mengenai undang-undang tersebut. Dengan adanya  undang-undang tersebut, seolah-olah siswa memiliki kekuatan besar untuk melawan. Padahal undang-undang dibuat untuk melindungi anak, bukan untuk disalahgunakan yang berakibat guru tidak bisa berkutik untuk memberikan punishment.

* Menurut ketua umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia ( PW PII ) Jawa Timur Muhammad Hasbi Al-Haikal, terjadinya berbagai kasus kekerasan dalam dunia pendidikan menunjukkan kondisi darurat moral pekat di Indonesia. Kasus ini mencoreng dunia pendidikan terutama mengenai moral dan karakter pelajar.

* Menurut ketua umum pimpinan pusat muslimah NU Khofifah Indar Parawansa, kasus ini menjadi catatan kelabu wajah pendidikan  di Indonesia. Seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi jika antara murid dan guru paham tatakrama yang harus dijaga. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa sekolah hanya sebatas institusi pendidikan yang menjalankan fungsi “transfer of knowledge” dan belum menjalankan fungsi “transfer of attitude”.

Banyak orang tua menganggap jika anak sudah sekolah maka pendidikannya menjadi tanggung jawab sekolah. Padahal dalam hal pendidikan karakter itu menjadi tanggung jawab bersama, yaitu orang tua, puhak sekolah, dan masyarakat/lingkungan.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang dipakai saat ini semakin nampak kerusakannya. Pada output sistem pendidikan seperti ini tidak mungkin diharapkan bisa menjadi arsitek peradaban cemerlang dimasa depan. Hanya sistem pendidikan Islam yang mampu mencetak pribadi yang sholih dan mushlih. Karena sesuai dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah sekaligus Kholifah pemakmur bumi.

 

Wiwi Awaliyah, SE (wie.badri@gmail.com)

Komplek Permata Safira-Serang.

Berita Terkait