Menyoal Calon Rektor dan Nilai Untirta Jawara

Kepemimpinan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) memasuki babak baru. Rektor saat ini Prof. Soleh Hidayat sudah memasuki masa akhir periode yang diemban sejak tahun 2011. Berdasar hasil Sidang Senat Untirta, saat ini Bakal Calon (Balon) Rektor Untirta periode 2019-2023 sudah disahkan. Dari 6 (enam) pendaftar, terpilih sebanyak 4 (empat) balon yang telah lulus tahapan verifikasi. Keempat balon rektor Untirta tersebut yakni Agus Ismaya Hasanudin, Fatah Sulaiman, Suherman dan Tubagus Ismail.

Menurut Panitia Pemilihan Rektor Untirta, setelah melalui proses penetapan Balon Rektor, keempatnya akan melalui tahapan penyampaian visi-misi dalam sidang senat terbuka pada tanggal 10 April 2019. Kemudian pada tanggal 12 April 2019, empat balon akan disaring lagi menjadi 3 (tiga) calon rektor oleh Senat Untirta dalam rapat tertutup.

Hasil rapat ini lalu disampaikan kepada Menteri Riset Teknologi Pendidikan Tinggi RI (Menristek Dikti) pada tanggal 15 April 2019. Proses di kementerian berlangsung sampai dengan pemilihan rektor dalam rapat Senat Untirta bersama Menristek Dikti tanggal 12 Juni 2019. Pada tanggal 28 Agustus 2019 kita akan mengetahui Rektor Untirta periode 2019-2023 yang langsung ditetapkan dan dilantik oleh Menristek Dikti.

Meneruskan Nilai Untirta JAWARA

R.S.Suroyo.Jr, Presiden Mahasiswa BEM KBM Untirta 2008

Dari keempat Balon Rektor Untirta, menurut saya Dr. Fatah Sulaiman memiliki visi yang mendalam untuk memimpin Untirta kedepan. Pengalaman beliau ditingkat Universitas memang tak bisa diragukan. Beliau sukses memimpin Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdainfo) dalam fase transisi manual ke digital. Beliau juga berhasil mengemban amanah sebagai Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama yakni dengan membawa Islamic Development Bank (IDB) untuk bekerjasama memulai pembangunan Kampus Sundangsari. Selain itu, Bersama Prof. Soleh Hidayat, Fatah Sulaiman akan tercatat dalam tinta emas Untirta karena berhasil menorehkan akreditasi A Untirta pada saat menjabat Wakil Rektor I Bidang Akademik.

Keberhasilan ini diungkap beliau karena meneladani dua sosok tokoh pergerakan Banten yakni Sultan Ageng Tirtayasa dan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Kedua tokoh ini menurut beliau merupakan simbol dari kekuatan umaro dan ulama. Sehingga Fatah Sulaiman memiliki gagasan akan membawa Untirta kedalam pusaran kepemimpinan dan keintelektualan. Untuk mencapai itu dibutuhkan perpaduan karakter yang diperlukan dalam memimpin Untirta sebagai pusat keilmuan dan kepakaran serta pusat kaderisasi kepemimpinan nasional.

Karakter dimaksud antara lain tercermin dalam sembilan karakter unggul, yaitu: 1). Cerdas; 2). pantang menyerah; 3). Inovatif-kreatif; 4). visioner peduli terhadap pengembangan ilmu dan pendidikan; 5). proaktif-responsif berorientasi pada pelayanan; 6). membuka diri dan mampu membaca tantangan zaman; 7). komunikatif dan mampu bekerjasama; 8). moderat dan menghargai kemajemukan; 9). menjaga nilai budaya lokal. Sembilan karakter inilah yang harus menjadi jati diri setiap individu sivitas akademika Untirta.

Dalam menjalankan aktifitas pelaksanaan tridharma perguruan tinggi kesembilan karakter ini harus dibalut dengan norma atau nilai JAWARA, yakni Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Relijius dan Akuntabel. Landasan nilai JAWARA inilah yang menurut Fatah Sulaiman dibutuhkan untuk membangun Untirta It’s Green atau tau Untirta yang Integrated, Smart and Green.

Integrated, Smart & Green University

Untirta It’s Green bertujuan untuk mewujudkan Untirta sebagai Universitas Kelas Dunia yang mampu bersaing di tataran global dan tentu menjadi kebanggaan masyarakat Banten. Bermodalkan jati diri kesembilan karakter dan norma/nilai JAWARA di atas, seluruh sivitas akademika dapat menjadikan Untirta sebagai kampus yang memiliki kewibawaan akademik dan kewibawaan intelektual.

Dalam visi Fatah Sulaiman, dijelaskan bahwa Integrated bermakna menggabungkan seluruh potensi kampus, baik potensi fisik maupun non fisik dengan filosofi together make stronger. Integrasi ini juga menciptakan lingkungan belajar yang positif di mana Dosen, Staf Tenaga Kependidikan dan Mahasiswa dari kelima zona kampus Untirta yakni Sindangsari, Pakupatan, Cilegon, Kepandean, dan Ciwaru.

Implementasi Sistem Manajemen Terpadu akan mengintegrasikan semua sistem dan proses organisasi ke dalam satu kerangka kerja yang lengkap. Untuk mewujudkan hal ini maka akan dibangun konektivitas antar kampus menggunakan jaringan internet dengan backbone fiber optic. Untirta Kampus Sindangsari akan menjadi command center bagi zona kampus-kampus Untirta yang lain.

Kemudian Smart University mengandung pengertian tercapainya kampus Untirta yang berbasis teknologi. Dalam mengedepankan aspek ini saat menjadi Rektor Untirta, Fatah Sulaiman akan membangun fasilitas smart office, smart building management, smart meeting, untirta command center, smart laboratorium, smart café, smart card), penerangan (smart lighting), parkir (smart parking), dan transportasi (smart transportation). Pada situasi demikian kampus akan menjadi purnarupa bagi kota dan kabupaten di Banten dalam mengembangkan Smart City.

Sebagai pamungkas, konsep ini harus berprinsip ekologis. Green University adalah suatu konsep pengelolaan dan penyelenggaraan universitas yang identik dengan pengelolaan industri berbasis lingkungan. Di dalamnya terjadi implementasi prinsip-prinsip konservasi, efisiensi, produktifitas dan harmonisasi dengan lingkungan alam, civitas akademika serta masyarakat sekitar.

Langkah-langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan Green University meliputi: konservasi, efisiensi, produktivitas, Harmonisasi dengan lingkungan dan Pelayanan sosial. Green Univesity ini secara operasional tercermin dalam tata kerja berdasarkan prinsip-prinsip Good Governance (G), Relevancy (R), Enterpreneurship (E), dan Networking (N). Visi ini meyakinkan kita bahwa Fatah Sulaiman akan membawa Untirta pada tahun 2030 menjadi World Class University, yang leading di kawasan regional ASEAN. Menimbang itu, saya yakin Fatah Sulaiman adalah rektor yang paling tepat untuk memimpin Untirta periode 2019-2023.

Penulis : R.S.Suroyo.Jr, SP, Msi, Presiden Mahasiswa BEM KBM Untirta 2008 dan Ketua Harian DPP Pemuda Tani Indonesia