EkonomiOpini

Strategis Pembangunan Pertanian Indonesia Dalam Perspektif Bank Dunia

Tahun 2045 akan menjadi tahun bersejarah bagi bangsa ini, menandai 100 tahun Kemerdekaan Indonesia. Pada tahun yang sama, pilar-pilar strategi pembangunan pertanian Indonesia ditetapkan.

OLEH: ENTANG SASTRAATMAJA *)

Bank Dunia juga menyampaikan tanggapan dan perspektifnya terkait arah dan kebijakan pembangunan pertanian Indonesia yang saat ini sedang menuju semangat baru dalam menghadapi tahun 2045.

Kahkonen menyebutkan bahwa Kebijakan pembangunan pertanian yang ditempuh Pemerintah terbukti mampu meningkatkan produksi hasil pertanian secara signifikan. Dengan peningkatan produksi tersebut, Kahkonen menyatakan pendapatan petani juga meningkat.

Sehingga menjadi menarik ketika Country Director Bank Dunia Indonesia Satu Kahkonen menilai strategi pembangunan pertanian Indonesia pada tahun 2045.

Hal inilah yang kemudian mendorong bangsa ini untuk selalu menjamin harapan peningkatan produksi yang sejalan dengan pendapatan petani yang juga harus meningkat.

Apa yang dikatakan Kahkonen tentu berdasarkan fakta. Salah satu alasannya, bisa jadi Kahkonen mengacu pada data yang dirilis International Research Rice Institute (IRRI) yang tahun lalu memberikan piagam penghargaan kepada Pemerintah Indonesia atas keberhasilan meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi, sehingga memberikan melahirkan Swasembada Beras.

Kabar baiknya, ternyata selama tiga tahun berturut-turut Indonesia mampu menutup keran impor.

Selama itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tidak ada impor beras komersial. Hal ini menunjukkan komitmen Presiden Joko Widodo yang pada tahun 2019 menyatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak akan mengimpor beras selama produksi petani dalam negeri mencukupi, hal itu terbukti bisa dilakukan.

Meski beberapa bulan kemudian, Pemerintah kembali membuka keran impor beras, yakni saat Indonesia mengimpor 500 ribu ton beras, tak lain adalah pertimbangan untuk memperkuat pasokan beras Pemerintah, sebagaimana dilansir Badan Pangan Nasional. menjadi sosok yang mengkhawatirkan.

Beberapa hal yang perlu digarisbawahi, yakni pentingnya memastikan swasembada beras dalam negeri terus berlanjut. Memastikan sektor pertanian di Indonesia terus mengalami surplus beras.

Bahkan, jika memungkinkan Indonesia akan kembali mengekspor karena kebutuhan beras dalam negeri melimpah dan berlebih.

Terlepas dari hal-hal yang telah disebutkan, Kohkanen dalam kapasitasnya di Bank Dunia menyatakan cukup puas dengan kinerja yang dicapai Pemerintah Indonesia dalam menggenjot produksi beras.

Jalan Yang Benar

Dalam pandangan Kohkanen, kebijakan dan strategi peningkatan produksi berbagai komoditas pangan yang diterapkan di Indonesia sudah berada di jalur yang benar.

Menghadapi tahun 2045, Kohkanen mengingatkan agar kinerja peningkatan produksi beras tetap terjaga dan terjaga.

Beberapa pekerjaan rumah penting yang harus dikerjakan adalah sejauh mana Indonesia mampu menjaga momentum agar produksi yang dihasilkan tetap menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Peningkatan produksi dan produktivitas harus dibarengi dengan peningkatan pendapatan petani. Penting juga bagi pemerintah untuk terus melakukan pengendalian harga di tingkat petani, agar harga yang terjadi pada saat panen, tetap berada pada posisi harga yang wajar.

Ini sebenarnya pesan yang disampaikan Presiden Jokowi kepada para pembantunya. Presiden menginginkan harga yang terjadi di berbagai level mampu memberikan keuntungan bagi setiap pelaku pasar.

Di tingkat produsen, harga harus dikendalikan dengan baik agar petani tetap untung. Jangan sampai pendapatan yang diterima petani malah lebih kecil dari biaya produksi. Jika hal ini terjadi, kesejahteraan petani akan sulit meningkat seperti yang diharapkan.

Begitu juga dengan harga-harga yang terbentuk di pasar diharapkan tidak merugikan para pedagang, apalagi membuat masyarakat sebagai konsumen akhir menderita.

Lagi-lagi Presiden menuntut direncanakan harga yang wajar. Namun, dipahami dengan benar, harga yang wajar tampaknya perlu ditekankan. Dalam penerapannya, tentu banyak hal yang perlu diatur ulang.

Tidak hanya terkait dengan urusan bisnis, namun semangat agar semua orang bahagia harus dibangkitkan dalam pola pikir semua pihak yang terlibat.

Bank Dunia juga mengingatkan Indonesia untuk siap menghadapi ancaman El Nino yang disebut-sebut berdampak kurang baik bagi sektor pertanian.

Perubahan iklim yang ekstrim ini memang menuntut keseriusan dalam menghadapinya. Peristiwa masa lalu hendaknya dijadikan sebagai pengalaman berharga sekaligus sebagai proses pembelajaran di masa mendatang.

Indonesia sendiri, jangan anggap remeh fenomena El Nino. Lebih baik berhati-hati daripada berpuas diri.

Pimpinan Bank Dunia untuk Indonesia juga menyampaikan pandangannya terkait dukungan politik anggaran yang diberikan Pemerintah kepada sektor pertanian.

Bias terhadap pertanian ditentukan oleh seberapa besar dukungan anggaran yang diberikan. Jika dukungan anggaran hanya 2 atau 3 persen dari APBD, baik provinsi maupun kabupaten/kota, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan anggaran yang diberikan sebaiknya diusulkan untuk lebih berpihak pada sektor pertanian.

Pandangan Bank Dunia terhadap keseriusan Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan pertanian dengan tujuan mendongkrak produksi setinggi-tingginya sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, jelas merupakan penilaian yang obyektif.

Apa yang diingatkan oleh pimpinan Bank Dunia, hendaknya dijadikan sebagai analisis penting dalam merumuskan arah dan kebijakan pertanian ke depan.

Satu hal yang luput dari perhatian Bank Dunia adalah transfer generasi petani yang saat ini sedang marak dan bisa menjadi masalah serius.

Fenomena semakin banyaknya generasi muda pedesaan yang menolak menjadi petani pada dasarnya merupakan “peringatan” yang perlu dicarikan jalan keluar terbaik.

Begitu pula dengan persepsi orang tua yang saat ini berprofesi sebagai petani, melarang anaknya menjadi petani. Mereka berharap anaknya kelak menjadi pejabat negara atau pejabat swasta.

Nah, maka kita butuh pandangan dan solusi dari pimpinan Bank Dunia atas persoalan seperti ini. Pekerjaan rumah bersama bagi semua pihak untuk mendorong pemuda desa mau menjadi petani. Kemudian meningkatkan kesejahteraan petani, sehingga menjadi profesi yang diminati generasi muda.

Lalu, langkah terbaik apa yang harus diambil agar profesi petani tetap diminati pemuda pedesaan di tanah air?

Semua pihak harus bergandengan tangan dengan Pemerintah untuk terlibat dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani dan mendorong regenerasi petani, misalnya melalui pengembangan petani milenial yang diterapkan di berbagai daerah, menjadikan upaya tersebut bukan sekedar langkah untuk membawa citra yang baik, tetapi reformasi menyeluruh dari sektor pertanian. (**)

*) Penulis alah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.

**) Artikel ini merupakan kerjasama diseminasi LKBN Antara dengan MediaBanten.Com.

Iman NR

Back to top button