Tausyiah

Akhlak Nabi Muhammad Merupakan Cerminan Rahmat Lil Alamin

Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah cerminan rahmatan lil alamin. Ketika Rosul disakiti saat berdakwah di Thaif dengan dilempar batu hingga berdarah dan giginya pecah, Malaikan Jibril datang dan mengatakan mintalah kepada Allah agar bumi mereka dibalikkan. Rosul berdoa untuk keselamatan.

“Sekarang kan tidak. Naon, aing teu wani tah ka dia. Astagfirullah, beuh galak amat dak,” kata Ustad Ruslan saat memberikan tausyiah pada acara Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Rabu (21/11/2018).

Ustad Ruslan berpesan, setiap manusia yang memiliki kelebihan, pasti ada yang iri. “Biarkan saja orang lain mau mengatakan apa saja, jangan dilayani. Sebab dalam hadis sudah disebutkan, siapakah yang rugi, justru yang rugi adalah mereka yang memiliki rasa iri, bukan kita yang dijadikan obyek iri. Dia itu rugi kepada Allah, bukan kepada kita. Biarkan saja,” katanya.

Apalagi saat ini bertebaran hoaks atau kabar bohong. Pembuat dan penyebar hoaks itu sangat dilaknat Allah. Rosulullah itu orang yang tidak pernah bohong dengan gelanya sebagai Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Para kepala suku atau kabilah mempercayakan kepada Nabi Muhammad ketika menaruh hajar aswad di kabah, bukan kepada orang lain, meskipun para kepala kabilah itu belum mau masuk Islam.

Baca: Abdullah bin Abbas, Pemuda Quraisy Cerdas Yang Disukai Rosululloh

“Yang mengatakan itu bukan Nabi Muhammad, tetapi para musuhnya. Bahwa Muhammad itu orang yang jujur, orang yang dapat dipercaya. Itu bukan kata Nabi Muhammad,” ujar Ustad Ruslan.

Ustad Ruslan juga mengingatkan hadis yang menyebutkan siapa yang berbuat lebih baik hari ini daripada hari kemarin, maka mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan, Rosulullah SAW selalu mencontohkan tidak pernah melihat ke masa lalu, tetapi selalu melakukan perbaikan hari ini untuk kehidupan masa depan.

Salah satu kunci yang diterapkan dalam Islam adalah disiplin, di antaranya diperlihatkan dalam pelaksanaan ibadah sholat. Dalam seharik, ada lima waktu yang terdiri dari Isa, Subuh, Dzuhur, Ashar dan Maghrib. “Tidak bisa waktu subuh dilaksanakan sore hari. Juga tidak bisa sholat Isa dilaksanakan subuh atau siang hari. Semuanya ada tempat dan waktu-waktunya sendiri,” katanya.

Tidak bisa seorang makmum mendahului gerakan Imam, batal sholatnya. Tidak bisa makmum melakukan rukuk, sujud atau takbir sebelum imam melakukan hal tersebut. Imam sholat tidak bisa diganti kecuali imamnya batal dan tidak memenuhi syarat. “Ini mah seroang staf ceceleuncengan bae, heunteu ngiring ka imam na. Atuh acak-acakan,” kata Ustad Ruslan.

Dengan disiplin yang tinggi, orang atau umat Islam akan mampu mengorganisasikan segala sesuatunya dengan baik dan mencapai tujuan kehidupan akhirat yang baik sesuai yang diajarkan Islam. (IN Rosyadi)

Iman NR

Back to top button