Beda Data Pusat VS Banten, Berbahaya Bagi Program Pencegahan Covid

Dadang Sodikin, Direktur Eksekutif Pusat Studi Pemberdayaan Masyarakat atau Center for Community Development Studies (PSPM – CCDS) mengkritik data Covid 19 Banten yang berbeda jauh dengan data yang dilansir Satgas Covid 19 Pusat. Data tak akurat itu “membahayakan” penyusunan program penanggulangan dan pencegahan Covid.

“Ini aneh banget. Bagaimana penanggulangan Covid 19 akan efektif? Bukankah data itu menjadi dasar keputusan dan penetapan kebijakan publik. Bagaimana bisa tepat kalau datanya tidak akurat, begitu besar perbedaannya,” kata Dadang Sodikin yang ditemui MediaBanten.Com, belum lama ini.

Tidak akuratnya data itu menyebabkan keraguan atas program pencegahan Covid 19 di Banten. Misalnya, apakah data yang ditampilkan ke publik itu sesungguhnya benar atau tidak. Bisa jadi data kasus konfirmasi atau positif Covid jauh lebih besar dari yang disebutkan angkanya. Atau sebaliknya, data itu lebih kecil dari angka yang dilansir ke publik.

“Yang berbahaya adalah data itu menjadi dasar untuk membuat program pencegahan dan penanganan atau kebijakan publik. Saya bandingkan dengan angka kemiskinan. Misalnya tercatat 2.000 keluarga miskin. Kemudian dibuat program bantuang tunai per keluarga Rp1 juta. Maka berdasarkan data itu, alokasi anggaran mencapai Rp2 miliar. Kalau yang sesunggunya cuman 500 keluarga, maka ada lebih 1.500 keluarga miskin,” ujar Dadang Sodikin.

Program penanganan Covid 19 di Banten, tentunya berdasarkan data yang akurat untuk menjalakan program penangan yang tepat dan efektif. “Kalau perbedaannya begitu besar dan selalu berulang antara data Covid 19 yang dilansir Pemprov Banten dengan Satgas Covid 19 Pusat, ini justru menimbulkan keraguan atas program-program yang dibuat,” katanya.

Sebelumnya, Provinsi Banten duduk di peringkat pertama dalam penambahan kasus positif Covid 19 harian pada Minggu (4/4/2021) ini. Banten menyumbang 3.501 kasus baru dari hasil pemeriksaan spesiman selama 24 jam terakhir. Sementara DKI Jakarta yang biasanya di peringkat teratas, hari ini berada di posisi kedua dengan 736 kasus baru (Baca: Banten Penyumbang Tertinggi Kasus Positif Covid 19 Secara Nasional).

Demikian data yang disampaikan Satuan Tugas Penanganan Covid 19 kepada wartawan, Minggu sore (4/4/2021).

Data itu menyebutkan, setelah Banten menyusul, Jawa Barat dengan 338 kasus baru, Kalimantan Selatan dengan 290 kasus, dan Bali dengan 255 kasus baru. Belum ada penjelasan resmi dari Satgas Penanganan Covid-19 mengenai tingginya lonjakan kasus di Provinsi Banten hari ini.

Tingginya sumbangan angka positif dari Banten juga ikut medongkrak jumlah kasus baru secara nasional pada hari ini. Tercatat ada 6.731 kasus positif Covid 19 baru pada Minggu (4/4/2021) ini. Angka ini sedikit menanjak dibanding laporan penambahan kasus dalam sepekan terakhir yang berkisar di angka 4.000 sampai 5.000-an kasus.

Namun Kepala Dinas Kesehatan (Dineks) Banten, Ati Pramudi Hastuti membantah data Covid 19 dari Banten yang melonjak dan menjadi penyumbang terbesar di Indonesia. Katanya, data yang disampaikan Satgas Covid 19 Pusat disebut sebagai kumpulan data lama yang baru diinput selama empat hari terakhir pada aplikasi News All Record (NAR) milik Pusat, bukan data terbaru (Baca: Soal Banten Tertinggi Covid, Kadinkes: Data Lama Baru Diinput NAR)

Kepala Dinkes Banten, Ati Pramuji Hastuti meneruskan sebuah pesan WA kepada MediBanten.Com, Minggu (4/4/2021). “Ijin prof, menjelaskan terkait data kasus covid di Banten yg pemberitaannya tinggi,” dalam pesan itu tanpa menyebutkan Prof siapa yang dimaksudkan, apakah Prof Wiku, Jubir Satgas Covid 19 Pusat atau bukan.

Ati mengatakan, selama ini ada perbedaan data covid antara data di pusat dengan data covid di Banten. Data Banten selalu lebih banyak dibandingkan dengan data Banten yang dipublikasikan pusat. “Jadi data kasus Covid yang lama di Banten belum terinput seluruhnya pada aplikasi NAR atau News All Record milik pusat,” ujarnya.

“Hari Rabu, 31 Maret 2021, dari Posko KLB dan Pusdatin Kemenkes datang ke Banten, bertemu dengan seluruh penanggung jawab data All Record kabupaten / kota se-Banten. Tujuannya menyamakan data pusat dan daerah,” ujarnya.

Menurut catatan MediaBanten.Com, perbedaan data yang diterbitkan Satgas Covid 19 Banten dengan Pusat terjadi sejak pembentukan Satgas ketika mewabahnya Covid.

Data virus Covid 19 atau Corona di Banten selalu berbeda antara Satgas Covid 19 Banten dengan data pemerintah pusat. Hingga Selasa siang (31/3/2020), data Satgas Banten menunjukan, 80 pasien positif yang terdiri dai 10 pasien meninggal, 66 pasien dirawat dan 4 pasien dinyatakan sembuh (Baca: Data Covid 19 di Banten: 10 Orang Meninggal, 66 Pasien Positif Dirawat).

Sedangkan data Gugus Tugas Covid 19 dalam website covid.19.go.id memuat data pasien poisitif corona di Banten mencapai 128 pasien, 4 pasien meninggal dan 1 orang sembuh. Namun dalam website itu tidak tercantum rincian penyebaran pasien virus corona.

Dalam website infocorona.bantenprov.go.id terdapat rincian sebaran pasien tersebut. Selain data positif, website ini memuat data pasiden dalam pengawasan (PDP) yang berumlah 329 pasien. Dari jumlah itu, terdapat 17 pasien meninggal, 287 pasien dirawat dan 25 pasien dinyatakan sembuh.

Selain perbedaan data antara pemerintah pusat dengan Banten, juga dalam website infocorona.bantenprov.go.id juga terdapat pasien yang meninggal. Ternyata, data yang meninggal bukan hanya ada di pasien positif berjumlah 10 orang, tetapi juga terdapat pada daftar PDP berjumlah 17 orang. Jika dijumlah kedua angka itu, berarti terdapat 27 orang meninggal dalam status covid 19. (IN Rosyadi)


Apakah artikel ini bermanfaat? Silakan berdonasi. Klik tombol di bawah ini.
donate-button

Berita Terkait