HikmahOpini

Belajar Kesungguhan Hidup Dari Kisah Nabi Ismail dan Ibunya, Hajar

Kisah Hajar dan Nabi Ismail memberi pelajaran kepada kita. Hajar selalu berpikir positif, bahwa Allah pasti akan membantunya. Ia pasrah, namun tetap semangat berusaha sekuat tenaga, dan Tuhan pun memberi hadiah dan karunia, yang besarnya (kadangkala) tidak mesti sebanding dengan usaha (kecil) yang kita lakukan.

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk *)

Meski atas perintah Allah dengan dasar keyakinan dan kepasrahan yang kuat, namun Hajar juga seorang manusia biasa. Saat bekal makanan dan air sudah habis, sementara lembah itu tidak menyediakan apapun yang bisa dimakan dan diminum, Hajar pun kebingungan. Awalnya, ia berlari menuju bukit yang oleh Al-Qur’an dinamai bukit “Shafa”.

“Shafa” artinya jernih atau kejernihan. Proses penjernihannya disebut “tashfiyah”. Pelakunya disebut “shufi” atau “shafiya” (perempuan). Dalam konteks ini, proses penjernihan yang dilakukan oleh Hajar dimulai sejak bertemu dengan Nabi Ibrahim dan mencapai puncaknya ketika hendak ditinggalkan berdua di lembah Makkah yang tandus.

Maka, ketika Hajar berada di bukit Shafa, sesungguhnya ia berada dalam kejernihan pikiran yang luar biasa. Kejernihan itu terpancar dalam keyakinannya akan pertolongan Allah dan tidak akan menyia-siakannya. Ia berbaik sangka dan berpikiran positif kepada Allah seraya berusaha sekuat tenaga.

Baca:

Shafa dan Marwah

Dari bukit Shafa ia melihat ke bukit yang oleh Al-Qur’an disebut bukit “Marwah”. Marwah artinya harapan yang kuat. Saat Hajar melihat ke bukit Marwah, ia melihat ada harapan yang kuat bahwa di sana ada air. Karena saking kuatnya harapan itu, ia kemudian berlari.

Dalam prosesi sa’i, kita biasanya diperintahkan untuk berlari di antara tanda lampu yang telah disediakan. Setelah itu, harapan itu sedikit meredup. Namun, ia tidak berhenti begitu saja. Ia tetap berjalan menuju bukit Marwah.

Bayangan air di padang pasir merupakan fatamorgana. Fenomena ini diceritakan dalam kisah Hajar, Ibu Nabi Ismail AS. Peristiwa ini diabadikan dalam ritual Ibadah Haji. (Foto: suaramuhammadiya.id)

Rupanya apa yang disangkanya air itu hanya bayangan fatamorgana saja. Tujuh kali dilakukan oleh Hajar hingga berakhir di Marwah. Bayangan fatamorgana seperti air itu bisa dilihat saat kita berada di tengah padang pasir atau (kalau kita ya) jalan raya aspal. Tampak dari jauh akan ada bayangan seperti ada air. Tapi, saat kita dekati dan datangi, bayangan air itu tidak ada. Dan seperti itulah yang dialami oleh Hajar.

Hajar berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan puteranya Ismail. Ia pasrah, namun tetap semangat berusaha sekuat tenaga. Tuhan memberikan “hadiah” dan karunia besarnya (kadangkala) tidak mesti sebanding dengan usaha (kecil) yang kita lakukan.

Hanya Berusaha

Manusia hanya punya kewajiban untuk berusaha dan berupaya dengan serius. Jika manusia mau bergerak, maka Allah akan memberikan karunia-Nya.

Baca:

Hajar ingin memberi pelajaran kepada kita betapa Hajar selalu berpikir positif kepada Tuhannya bahwa Allah pasti akan membantunya. Selain itu, Hajar juga berusaha dengan optimisme bahwa di bukit Shafa ada air, lalu berlari ke Marwah karena di sana (dalam benaknya) ada air.

Dia berusaha dengan optimisme, tidak dengan pesimisme. Shafa adalah “tempat yang bersih dan bening”, layaknya perasaan dan pikiran Hajar saat itu.

Layaknya Hajar yang berlari-lari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Saat sudah tujuh kali dan berhenti di Marwah, tangisan Ismail semakin kuat. Begitu pula dengan hentakan kakinya. Dari hentakan kaki Ismail inilah keluar air.

Allah justru memberikan karunia airnya dari jejakan kaki Ismail. Bukan dari pencarian Hajar. Ini artinya bahwa rejeki seorang anak itu bisa muncul dari kesungguhan usaha orang tuanya. Air muncul pada hitungan ketujuh. Dan keenam langkah sebelumnya adalah cara Allah untuk memberikan pahala atas langkah yang telah ditempuh.

Berpikir Secara Akal

Kadang kita berpikir betapa anak-anak kita bersekolah dengan biaya yang –jika dipikir secara akal sepertinya– tidak mungkin. Tapi, selalu ada saja jalan yang diberikan Allah kepada si anak itu. Apalagi jika orang tua berdoa untuk masa depan anak-anaknya, maka doa itu akan berlaku hingga si orang tua itu tidak ada sekalipun.

Jadi, jangan pernah berpikir bahwa apa yang ada pada diri kita dengan segala kebaikan dan kebahagiaan itu ada hanya karena usaha kerja keras kita sendiri. Tapi, yakinkanlah bahwa semua itu ada (di dalamnya) usaha, kerja keras, kerja ikhlas dan doa orang tua kita.

Baca:

Ketika mendapatkan air yang memancar dari kaki Ismail, Hajar lalu mengambilnya sambil mengatakan “Zam zam zam zam zam..”. Zam zam itu artinya “kumpul dan jangan berhenti”. Hingga hari ini, air itu tidak pernah berhenti. Bukan hanya cukup untuk Nabi Ibrahim, Hajar dan keturunannya, tapi juga bagi seluruh umat manusia hingga kini.

Maka mata air itu kemudian diberi nama sumber mata air Zamzam. Dari mata air inilah Makkah secara perlahan membentuk menjadi sebuah kota.

Memantik Pelajaran

Apa yang dilakukan Hajar memantik pelajaran bahwa seseorang harus tetaplah berusaha. Jika kemudian Allah memberi karunianya dari pintu yang lain itu adalah kehendak dan hak kuasa-Nya.

Jika Anda, misalnya, seorang guru swasta yang penghasilannya sangat pas-pasan dalam hitungan matematik, namun sangat mungkin Allah akan mengalirkan karunia dan rezeki-Nya dari jalan lain yang tidak pernah Anda duga.

Itupun kalau yakin kepada-Nya. Kalau Anda menghitungnya dengan hitungan matematis yang dibandingkan dengan usaha yang Anda lakukan, maka Anda pun akan mendapatkannya sesuai dengam hitungan Anda.

Karenanya, hitunglah dunia ini dengan hitungan Allah yang Anda sendiri mungkin tidak pernah menjangkaunya. Yakin, beriman dan ber-husnuzh-zhan-lah bahwa Allah akan melimpahkan rejeki-Nya tanpa batas kepada kita.

Kita ini, kadang sering kurang bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita. Kita mudah mengeluh. Kita mudah mengaduh. Kita mudah protes dan berburuk sangka kepada Allah atas sedikit ujian yang diberikan kepada kita. Kita kemudian tidak yakin bahwa Allah pasti akan menolong hamba-Nya.

Allah berjanji dengan firman-Nya dalam ayat terakhir QS Al-Ankabut kepada mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhannya dalam rangka mencari ridha-Nya,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (***)

———————————————————

*) Bahrus Surur-Iyunk adalah guru SMA Muhammadiyah I Sumenep, penulis buku Agar Imanku Semanis Madu (Quanta EMK, 2017), Nikmatnya Bersyukur (Quanta EMK, 2018), Indahnya Bersabar (2019) dan 10 Langkah Menembus Batas Meraih Mimpi (SPK, 2020).

Artikel ini dikutip utuh dan disatukan dari dua tulian yang dimuat di suaramuhammadiyah.id. Lihat halaman aslinyA bagian 1 DI SINI dan Bagian II DI SINI.

Iman NR

Back to top button