Opini

Mengatasi Trauma Psikologis pada Anak Menurut Teori Neurosains

Trauma psikologis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti menjadi korban kekerasan fisik atau pemerkosaan, kehilangan orang tersayang, atau menjadi korban bencana alam atau kecelakaan.

Jika tidak diatasi dengan tepat, trauma psikologis dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan seseorang, mulai dari kondisi fisik, kesehatan mental, hingga perilaku dan interaksi sosial.

Ketakutan yang disebabkan oleh peristiwa traumatis biasanya dapat hilang dengan sendirinya dengan waktu.

Namun, ada beberapa individu yang mengalami trauma secara konsisten, yang menyebabkan stres dan ketakutan yang berlebihan.

Oleh : Aqidatul IzzahMagister Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung

PTSD (post-traumatic stress disorder) adalah jenis trauma yang membutuhkan psikoterapi yang dipandu secara langsung oleh psikiater.

Psikiater akan membantu penderita PTSD memahami, mengelola, dan mengembangkan strategi khusus untuk menghilangkan trauma. Selain itu, jika penderita PTSD sebelumnya juga mengalami depresi atau gangguan cemas, penggunaan obat antidepresan dan pereda cemas mungkin juga diperlukan.

Selain itu, penderita dapat diajarkan teknik untuk mengurangi stres traumatik, seperti EFT. Meskipun menghilangkan trauma bukanlah hal yang mudah, itu tidak berarti mustahil untuk dilakukan.

Jangan segan untuk meminta bantuan orang terdekat atau ahli, seperti psikiater atau psikolog, jika Anda merasa tidak dapat melakukannya sendiri.

Trauma anak bukan hal yang mudah untuk diatasi. Anak-anak yang pernah mengalami trauma harus diperhatikan secara khusus untuk memastikan bahwa trauma tersebut tidak berlanjut.

Karena trauma yang dialami anak dapat mengganggu perkembangan mereka, yang dapat berlanjut sampai dewasa. Anak-anak dapat mengalami trauma fisik dan psikologis.

Pengalaman emosional yang menyakitkan, mengejutkan, menegangkan, bahkan terkadang mengancam jiwa si anak disebut trauma psikologis.

Bencana alam, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan terorisme adalah beberapa situasi di mana jenis pengalaman ini dapat terjadi.

Trauma yang terjadi pada masa kanak-kanak juga dapat mempengaruhi perkembangan normal otak anak, termasuk ukuran bagian otak yang membantu mengontrol reaksi mereka terhadap bahaya.

Trauma pada usia sekolah juga dapat menunda kemampuan anak untuk menanggapi bahaya, seperti refleks kejut.

Perubahan biologis yang terjadi dalam tubuh yang disebabkan oleh trauma juga dapat mempengaruhi cara anak dan remaja menanggapi bahaya dan tekanan dalam hidup mereka di masa depan.

Trauma tidak hanya berdampak biologis, tetapi juga dapat berdampak pada emosi anak karena emosi anak sedang dalam tahap perkembangan.

Ketika trauma terjadi pada masa kanak-kanak, sulit bagi anak untuk mengenali emosi mereka dan menanganinya dengan bantuan orang tua atau pengasuh mereka.

Ini dapat menyebabkan anak menunjukkan emosinya terlalu banyak. Anak juga cenderung menyembunyikan perasaan mereka.

Bagaimana mengatasi trauma anak? Reaksi anak terhadap trauma dapat ditunjukkan baik secara langsung maupun kemudian, dan intensitas trauma ini juga dapat berbeda-beda antara anak-anak.

Anak-anak yang sudah mempunyai masalah kesehatan mental, pernah mengalami trauma di masa lalu, mempunyai dukungan yang sedikit dari keluarga dan lingkungan sekitar, dapat menunjukkan reaksi yang lebih terhadap trauma.

Tanda trauma yang ditunjukkan oleh anak-anak juga dapat berbeda-beda tergantung pada usianya.

Anak-anak di bawah usia lima tahun yang mengalami trauma akan menunjukkan tanda-tanda seperti ketakutan, terus “menempel” pada orang tua, menangis atau berteriak, merengek atau gemetar, diam saja, dan takut akan gelap.

Anak-anak antara usia enam dan sebelas tahun akan mengalami isolasi diri, menjadi sangat pendiam, mengalami mimpi buruk atau masalah tidur, tidak ingin tidur.

Tak hanya itu, anak – anak juga mudah marah dan bisa berlebihan, tidak mampu berkonsentrasi di sekolah, mengabaikan orang tua dapat melakukan hal-hal berikut untuk membantu anak mereka mengatasi trauma:

  • Melakukan kegiatan rutin bersama

Ajak anak melakukan kegiatan rutin bersama, seperti makan bersama, menonton TV bersama, dan pergi tidur. Lakukan kegiatan rutin ini seperti biasa.

Hal ini membuat anak merasa aman dan terkontrol. Biarkan anak tinggal bersama orang-orang yang akrab dengannya, seperti orang tua dan keluarganya.

  • Anak membutuhkan perhatian khusus dari orangtua

Setelah trauma, anak cenderung bergantung pada orang tuanya, terutama ibunya. Oleh karena itu, sebagai ibu, Anda harus meluangkan waktu untuk anak Anda.

Anak harus diberikan pelukan agar ia merasa aman dan nyaman. Kita dapat menyalakan lampu di kamar anak atau membiarkan anak tidur bersama kita jika mereka takut tidur. Sangat wajar bagi anak untuk selalu berada di dekat orang tua mereka.

  • Menjauh dari hal-hal yang berhubungan dengan sumber trauma anak

Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan menghindari menonton film yang menggambarkan peristiwa yang traumatik bagi anak.

  • Pahami reaksi anak terhadap trauma

Reaksi anak berbeda-beda terhadap trauma, dan memahaminya dapat membantu mereka pulih dari trauma.

Anak-anak mungkin bereaksi dengan cara yang sangat sedih dan marah, tidak dapat berbicara, dan beberapa mungkin berperilaku seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang menyakitkannya.

Anak-anak harus diajarkan bahwa mereka berhak mengalami perasaan sedih dan kecewa saat ini.

  • Berbicara dengan anak-anak

Dengarkan cerita mereka, pahami perasaan mereka, dan beri jawaban yang jujur dan mudah dipahami jika mereka bertanya. Jika anak terus bertanya pertanyaan yang sama, itu menunjukkan bahwa dia kebingungan dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Jangan gunakan kata-kata yang membuat anak takut; sebaliknya, gunakan kata-kata yang membuat mereka nyaman. Bantu anak-anak mengkomunikasikan perasaan mereka.

  • Dukung dan selesaikan anak saat ia sangat membutuhkan kita

Temani dia saat ia membutuhkan orang tuanya. Selain mengatakan bahwa Anda sangat menyayanginya, beri keyakinan pada anak bahwa ia bisa melewati hal ini.

Editor: Abdul Hadi

Abdul Hadi

SELENGKAPNYA
Back to top button