Gempa Lebak: Dari Kunjungan Wagub Banten Hingga Hoax Gempa 7,5 SR dan Tsunami

Foto: Golda

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak akan mengganti kerugian materil akibat gempa yang berlokasi di sebelah barat daya Kabupaten Lebak dengan kekuatan 6,4 skala richter (SR) yang terjadi, Selasa (23/1/2018).

Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy seusai gempa langsung menuju daerah yang dinilai paling parah akibat guncangan gempa di Kecamatangan Panggarangan, Kabupaten Lebak. Di kecamatan ini tercatat 490 rumah yang rusak.

Pasca diguncang gempabumi 6,4 Skala Rikter ratusan rumah warga yang berada di Kabupaten Lebak khususnya daerah selatan mengalami rusak parah. Kerusakan parah tersebut merupakan rumah milik warga, musholah, gedung sekolah hingga perkantoran.

“Pemprov Banten akan mengganti kerugikan material yang rusak akibat gempa tersebut, namun kami akan menunggu informasi selanjutnya dari BPBD Kabupaten Lebak untuk mengetahui data yang pasti berapa saja rumah warga yang rusak karena gempa bumi.” Kata Wagub.

Andika kembali menghimbau agar warga tidak perlu panik dalam menghadapi gempa yang terjadi sekitar pukul 13.44 WIB. “Di Panggarangan ini kan ada sekitar lima kali gempa susulan, dan saya menghimbau agar masyarakat tidak usah panik serta tidak usah takut dalam kondisi yang ada, kemudian untuk sementara masyarakat yang terdampak gempabumi akan mengungsi di rumah saudaranya masing-masing dan BPBD Provinsi Banten telah menyiapkan tenda-tenda darurat,” ujarnya.

Selain itu Wagub juga menghimbau agar masyarakat tidak terpengaruhi oleh informasi-informasi hoax. “Jadi perlu diklarifikasi bahwa ada beberapa gambar yang beredar di media sosial bahwa  banyak sekali rumah warga yang rusak parah dan itu ada sebagiannya yang hoax,” tungkasnya.

Kepala BPBD Banten Sumawijaya mengungkapkan, BPBD menyiapkan logistik untuk kebutuhan masyarakat yang terkena gempa. “Kami bantu masyarakat, namun hingga saat ini, kami masih menunggu data keseluruhan warga yang  terkena gempa, mau itu kerusakan bangunan atau korban jiwa,” ungkapnya seraya berjanji hari Rabu (24/1/2018), BPBD Banten mulai mendistribusikan logistik tersebut.

Hoax Tsunami

Geofisika BMKB wilayah Klas Tangerang, menegaskan bahwa informasi yang tersebar dalam rilis Meteorologi Terminal Klas 1 Serang adalah informasi yang hoax. Dalam rilis itu yang tersebar luas ke jejaring sosial, disebutkan bahwa pukul 23.00 akan ada gempa susulan dengan kekuatan 7,2 Skala Riter.

“Itu hoax, kami juga kaget pas menerima informasi tersebut, saya sudah hubungi Pak Sugarin kepala Meteorologi Klas 1 Serang bahwa ia mengatakan itu tidak benar. Jelas-jelas itu hoax, saya harap masyarakat tidak terpengaruhi informasi sesat tersebut, “logikanya gini, titik gempakan adanya di selatan, tapi kenapa dirilis yang tersebar itu di utara, itu sudah diluar nalarkan” jelas Ruly sambil menegaskan.

Selain itu Geofisika wilayah klas Tangerang juga memberikan informasi bahwa keterangan resminya akan di umumkan besok pagi, “kami tidak bisa memberikan informasinya sekarang, nanti besok akan di umumkan oleh PGR 2 Ciputat, karena Banten Selatan masih wilayahnya,” ujarnya.

Di nitizet beredar surat dari Stasiun Meteorolgi Kelas I Serang tertanggal 23 Januari 2018. Surat itu ditujukan kepada Adpel Merak yang ditandatangani Kepala Stasiun Meteorologi kelas I Serang, Sugarin S.Si. Isi surat adalah peringatan dini (early warning) perkiraan cuaca di sejumlah perairan di wilayah Banten.

Yang membuat heboh adalah foto itu diberi komentar,” di harapkan keluar rumah nanti malam pukul 22.30-23.59 di karena kan petensi gempa susulan sebesar 7,5 SR magnitude bagi yang tahu harap sebarkan ini penting *BMKG”. Entah berawal dari siapa postingan ini, hanya dalam waktu 1-2 jam setelah gempa, beredar secara masif melalui facebook, twitter, WhatsApp dan jenis media sosial lainnya. Surat ini membuat resah sejumlah warga.

Pada sore harinya, BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang menerbitkan rilis yang membantah hoax soal tsunami tersebut. Rilis BMK Nomor UM.505/074/TNK/2018 itu ditandatangani Teguh Rahayu S.Kom, MM, Kepala Stasiun Geofisika Klas I Tangerang. Isi rilis antara lain membantah berita soal gempa susulan sebessar 7,5 SR.

Teguh menjelaskan, hingga saat ini belum ada teknologi dalam kegempaan yang bisa memprediksi secara pasti kapan, dimana dan berapa besar kekuatannya. “Untuk kesekian kalinya isu ini tidak perlu dihiraukan,” katanya seraya menghimbau agar warga mendapatkan informasi gempa dari sumber yang bisa dipercaya, di antaranya BMKG. (Golda)

Berita Terkait