Gubernur Hadiri LK II HMI Cabang Serang

Gubernur Banten Wahidin Halim menghadiri acara LK II Himpunan Mahasiswa Islam Tingkat Nasional HMI Cabang Serang yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Serang. Senin (29/07/2019).

Dalam acara tersebut Wahidin Halim berkesempatan menjadi pembicara dalam acara yang tersebut yang bertujuan terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual untuk memetakan peradaban dan memformulasikan gagasan dalam lingkup organisasi.

Wahidin meminta HMI agar dapat berperan dalam pemberdayaan perekonomian masyarakat. “HMI berperan menjadi mitra pemerintah,” ujar Wahidin Halim.

Kata dia, dengan revolusi industri 4.0 yang ada saat ini harus dapat diikuti HMI. “ Kita dipaksa dengan adanya revolusi industri 4.0 Kalau tidak, maka akan tertinggal “ ujar Wahidin. Menurut dirinya di Provinsi Banten yang menggunakan teknologi informasi baru mencapai 64 %.

Baca:

Selanjutnya Gubernur Banten menyebut bahwa HMI harus bisa menjawab tantangan dari revolusi industri 4.0 bukan lagi dalam tahap persiapan. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana me – manage anak-anak muda yang kurang paham teknologi tapi tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa bersaing dengan yang lain.

Menurut Wahidin, pemerintah menjadi fasilitator dalam kemajuan teknologi. “ Pemerintah menyediakan layanan – layanan teknologi itu. Salah satu caranya pengenalan teknologi di dalam lingkungan sekolah “ tutur Gubernur Banten.

Wahidin berharap kader HMI dapat berkiprah dalam pembangunan Banten maupun skala nasional. “Apalagi masyarakat Banten cerdas. Sekarang saja banyak tokoh nasional dari Banten,”ungkap Wahidin Halim yang juga merupakan alumni HMI.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Bapenda Prov. Banten, jajaran pengurus HMI pusat serta HMI Cabang Serang. (Subag Peliputan dan Dokumentasi Biro ARTP Pemprov Banten)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait