Online Learning Kaum Milenial (Antara Kecepatan Pengembangan dan Mempertahankan)

Foto: Google

Oleh: Teguh Renggayana *)

Keinginan untuk membicarakan pendidikan era milenial kian menguat dan ramai, seiring dengan perubahan-perubahan mendasar dari perilaku dan kemajuan teknologi yang tidak bisa dielakan. Ada kekhawatiran, pembelajaran era milenial ini menghilangkan nilai-nilai yang diperoleh dari cara belajar konvensional selama 10-20 tahun lalu yang sempat dikenyam perancang pendidikan untuk menyongsong era milenial.

TEGUH RENGGAYANA

Sikap ambigu dari penerapan pendidikan era milenal adalah di satu sisi sangat diamini jika penerapan teknologi dalam bidang pendidikan akan memudahkan para murid untuk memperoleh bahan ajar dan interaksi yang tidak tergantung ruang dan waktu. Prestasi dan pemahaman pun diyakini dapat meningkatkan dengan tajam. Di sisi lain, dengan penerapan teknologi itu suatu saat antara guru dan murid tidak pernah bertatap muka dalam proses belajar mengajar. Ini menimbulkan kekhawatiran tidak tertransfernya nilai-nilai atau norma antara guru dan murid yang hanya diperoleh pada saat tatap muka proses belajar mengajar.

Dengan berbagai alasan dan kendala dalam penerapan teknologi pendidikan tersebut yang pada waktu itu terasa substansial dan berubah di era sekarang ini menjadi alasan-alasan yang klasik. Alasan-alasan klasik ini merupakan bukti bahwa kesusahan dalam dunia pendidikan di masa lalu ternyata tidak menjadi masalah di era saat ini, dan bahkan masa depan. Pada akhirnya, keragu-raguan dalam menerapkan teknologi pendidikan seperti tidak pernah usai.

Di era milenial sekarang, ada yang mengalaminya dengan pembelajaran yang menarik karena bantuan media pembelajaran, di antaranya (e-learning), ada juga yang mengalaminya dengan kurang indah, karena bantuan media pembelajaran kurang maksimal pada setiap penyampaian materi ajarnya.

Penulisan artikel berjudul Online Learning Kaum Milenial (Antara Kecepatan Pengembangan dan Mempertahankan) adalah sebuah proses pengamatan yang akan menerima data-data yang bisa dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Jadi sebagai pengamat akan mengkompharasi hasil kedua analisis tersebut. Intinya peneliti melakukan pendekatan penelitian kualitatif, tetapi dengan pandangan mixed approach/bleanded.

Pengamatan ini ingin berusaha untuk setidaknya mengembangkan sistem pembelajaran berbasis e-learning, khususnya pada Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sehingga penyajian materi ajar secara prosesnya diharapkan bisa lebih menarik, efektif, accsessebel, efesien, inovatif.

E-learning sebagai Model Pembelajaran Berbasis Web dengan pengembangan bahan ajar (konten) secara proses: kurikulum, materi ajar, evaluasi pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Pemodelan Pembelajaran).

Sistem e-learning merupakan bentuk implementasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Website dapat berupa visual (display) atau media audio visual yang dapat memberikan kemudahan peserta didik menerima materi secara long distance. Bahkan media yang dibuat lebih menyenangkan atau menarik bagi peserta didik, sehingga peserta didik tidak merasa bosan dalam proses pembelajaran.

Dalam pengamatan pengembangan suatu model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi, salah satunya e-learning dalam pembelajaran yang dirasa lebih efektif. Penggunaan bahan ajar berbasis Web, akan membantu peserta didik dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. E Learning yaitu bentuk pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk penyampaian isi kandungan, interaksi ataupun pelatihan dari segi penggunaan media berbasis web.

Silahkan kunjung web renggayana.com yang dibuat untuk mengamati hal tersebut

Karena website merupakan stimulus (bimbingan) guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara visual, tidak hanya internet atau web. Sekarang ini kita bisa asik melakukan proses pembelajaran hanya dari satu alat yang dinamakan handphone berbasis android/smart phone, untuk itu memanfaatkan media-media tersebut harus memiliki kecakapan, semisal dalam penulisannya perlu memperhatikan kreteria media grafis sebagai media visual, khususnya tentang visualnya untuk menarik perhatian peserta didik.

Karena ruang-ruang pembelajaran tidak lagi jadi problem di era milenial learning sekarang ini, masalah besar dalam mengahadirkan ruang kelas tidak lagi menjadi masalah di era pendidikan sekarang ini, tapi tetap kita harus berpegang pada prinsip-prinsip pembelajaran yang tidak bertujuan ruang-ruang kelas kelak menjadi artefak pendidikan kedepan.

Ketika ini berkonteks pada sekolah-sekolah di Banten, tentunya sangat membantu dan mempercepat mutu dan kualitas pembelajara secara proses di setiap sekolah-sekolah yang ada, terutama pada wilayah-wilayah yang masih minim aksesibilitas dan juga bagi sekolah-sekolah vokasi yang memang harus berlari mengejar mutu agar punya kecakapan daya saing di dunia kerja dan usaha.

Dalam hal ini Banten dengan segala potensi dan usaha-usaha maksimal untuk percepatan dan perbaikan sektor pendidikan; salah satunya dengan program dan kegiatan penambahan Unit Sekolah Baru (USB), penambahan ruang-ruang belajar (RKB), Penguatan Kurikulum Nasonal dan Daerah, Sekolah Gratis Berkualitas (SMAN dan SMKN) dan lain sebagainya yang dilakukan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten tentu akan berdampak cepat pada peningkatan rata-rata mutu dan kualitas, akses dan tata kelola, serta pencitraa publik daa kontek asupan kebutuhan-kebutuhan prioritas sektor pendidikan di Banten.

Semua yang dipaparkan di atas akan menjadi lompatan perbaikan yang cukup sgnifikan jika di link and match/sinergiskan dengan edutech (pendidikan berbasis teknologi) tentu dengan strategi pemodelan terlebih dahulu agar tahapan-tahapannya menjadi terukur, konsisten, filosofis dan substansial dalam berproses dan bertujuan.

Hal sederhana dapat dilakukan di beberapa Sekolah Menengah yang ada di perkotaan yang penuh dengan fasilitas dan pedesaan yang masih minim fasilitas. Satu kelas diberi media Lembar Kerja Siswa (LKS-e) interaktif yang digunakan dalam e-learning berbasis web.

Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, angket dan dokumentasi. Hipotesis tindakan dalam tulisan sederhana ini adalah e-learning berbasis Web dengan penerapan Lembar Kerja Siswa (LKS-e) secara mandiri bisa dilakukan oleh masing-masing Pendidik/Guru dengan mudah dan kreatif serta tak terbatas dapat ditingkatkan melalui pembelajaran berbasis web di mana proses pembelajaran bisa berjalan dengan mandiri, dan akan langsung terlihat disparitasnya sejauh mana, serta bagaimana bisa mengikis atau mengisi celah disparitas tersebut untuk mengejar kekurangannya.

Sekolah-sekolah punya daya tahan, kreatif, gembira dan berbobot sehingga bisa membawa manfaat yang besar dengan proses yang mempunyai akselerasi yang baik. Semoga pemodelan pembelajaran ini menjadi pengembangan model pembelajaran yang terus dinamis dalam beriringan dengan revolusi industry 4.0 saat ini dan di tahun-tahun mendatang.

Kata Kunci: E-learning, berbasis web, Lembar Kerja Siswa (LKS-e) interaktif

*) TEGUH RENGGAYANA berkerja sebagai ASN pada Pemerintah Provinsi Banten

Berita Terkait