Beginilah Saat Rasulullah SAW Berkhutbah

Khutbah Jumat Rasulullah SAW berisikan sanjungan dan pujian kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda dengan meninggikan suaranya lalu menyebutkan isi khutbahnya. Pada lafaz lainnya, Nabi SAW memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi Allah SWT.

Beliau pun bersabda, “Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang telah disesatkan maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya. Sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah.”

Dalam khutbahnya, Nabi SAW menyampaikan, ‘Amma Ba’du’ setelah memuji, menyanjung Allah, dan bersaksi. Nabi SAW kerap memperpendek khutbah. Di sisi lain, beliau memperpanjang shalatnya dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Nabi menggunakan kata-kata padat bermakna. “Sesungguhnya lamanya seseorang dalam shalat dan pendek nya dalam khutbah menunjukkan kefaqihannya dalam masalah agama.” (HR Muslim).

Ketika berkhutbah, Nabi SAW mengajarkan prinsip-prinsip dasar keislaman, syariat-syariat Islam, memerintah (untuk melakukan kebaikan) jika ada kejadian (yang terkait dengan perintah), dan mencegah para sahabat (untuk melakukan hal yang bertentangan dengan Islam) jika telah dilarang.

Sebagai contoh, ketika Nabi SAW memerintahkan orang yang baru masuk masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat kalah beliau berkhutbah. Beliau juga pernah melarang orang dari berjalan di antara leher-leher orang lain dan memerintahkannya un tuk duduk.

Baca: Muslim di Australia Lebih Sering Alami Kekerasan Individu

Nabi SAW pernah menghentikan khutbahnya kala ada kepentingan yang harus disampai kan atau harus menjawab perta nyaan dari salah seorang sahabat. Dia kemudian kembali ke inti khutbahnya dan menyempurna kannya.

Nabi SAW juga terkadang turun dari mimbar untuk satu kepentingan tertentu. Dia kembali lagi ke tempat semula untuk khut bah dan menyelesaikan khut bahnya. Nabi SAW turun dari mimbar untuk mengambil Hasan dan Husin RA. Kemudian, Nabi SAW membawanya ke atas mimbar dan menyempurnakan khutbahnya.

Di dalam khutbahnya, Nabi SAW juga pernah memanggil sa habatnya seraya berkata, “Kesinilah wahai fulan, duduklah wahai fulan, shalatlah wahai fulan,” Nabi SAW juga pernah memerintahkan yang sesuai dengan tuntutan keadaan. Jika Nabi SAW melihat masyarakat terjerat da lam kesulitan ekonomi, dia perin tahkan agar bersedekah.

Sebelum adanya mimbar, Nabi SAW berpijak pada busur (pa da masa peperangan) atau sejenis tongkat (pada hari Jumat). Rasulullah tak pernah membawa pedang ketika menyampaikan khutbah. Ibnu Qayyim al-Jauziy mengatakan, adanya pendapat dari kaum awam yang mengung kapkan jika beliau selamanya berpijak pada pedang meng isya ratkan jika ajaran agama ini di ba ngun dengan pedang. Pema haman ini pun, menurut Ibnu Qay yim, termasuk dari sikap kebodohan dalam beragama.

Mimbar Nabi dibuat dalam tiga tingkatan. Mimbar tersebut tidak ditempatkan di tengah mas jid, tetapi ada di sisi barat masjid. Mimbar itu lebih dekat dengan dinding. Terdapat jarak sekadar untuk dilalui seekor kambing di antara mimbar dan dinding.

Nabi SAW mengarahkan pandangannya ke arah para sahabat ketika khutbah. Sementara itu, wajah para sahabat menghadap kepada Nabi SAW. Beliau menyampaikan khutbah dengan cara berdiri. Kemudian, duduk dalam waktu yang singkat. Beliau pun berdiri lagi untuk menyampaikan khutbahnya yang kedua.

Jika telah usai dari khutbah, Bilal Ra mengumandangkan iqamah. Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk mendekat de ngan beliau serta menyerukan ke pada mereka agar diam. Dia me nyampaikan kabar kepada saha bat. Jika seorang sahabat berkata kepada sahabatnya: “Diamlah” maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia.

Beliau pun bersabda: “Barang siapa yang melakukan perbuatan laghaw (sia-sia), maka sungguh tidak (ada pahala) Jumat untuknya.” Beliau juga bersabda: “Sia pa yang berbicara pada hari Jum at saat khutbah, ia ibarat seekor keledai yang memikul asfar (kitab penjelasan perihal Taurat). Se dang kan, yang mengatakan kepa da sahabatnya: “Diamlah” maka tidak ada Jumat baginya.” (HR Ahmad).

Sebelum ada mimbar, beliau berkhutbah dengan bersandarkan pada pangkal pohon kurma. Ketika beliau pindah dan berdiri di atas mimbar, pangkal pohon kurma itu merindukannya. Kesedihan pangkal pohon itu pun terdengar oleh orang-orang yang berada di masjid.

Nabi SAW pun turun dari mimbar dan memeluknya. Anas Ra berkata, “Pohon itu merindukan tatkala kehilangan kesempatan untuk mendengar wahyu yang turun kepada Nabi SAW (sebagaimana sebelumnya) dan kehilangan juga kesempatan ber interaksi langsung dengan Nabi SAW.” (Dikutip dari buku Fiqih Shalat karya Ibnul Qayyim al- Jauziyyah). (Dikutip utuh dari republika.co.id)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait