Komunitas BJS Protes Soal Tagline “Aje Kendor” Oleh Paslon Pilkada Kota Serang

Foto: Sofi Mahalali

Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS) menyampaikan keberatan atas penggunaan tagline salah satu pasangan calon (Paslon) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Serang tahun 2018. Tagline itu adalah “Aje Kendor”.

Keberatan Komunitas BJS itu disampaikan Lulu yang mewakili BJS ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Serang melakukan sosialisasi pemilihan Walikota dan Wakil Wallikota Serang pada Pilkada tahun 2018 di Kelurahan Panggungjati, Kecamatna Taktakan, Kota Serang, Sabtu (17/3/2018).

“Komunitas Bahasa Jawa Serang ini berdiri tahun 2011. Kami sudah menjelaskan kepada masyarakat bahwa tidak ada kaitannya salah satu pasangan calon menggunakan aje kendor dengan Komunitas BJS. Kami semua netral. Di facebook kami, terpaksa tagline itu diganti dengan cantelan duduluran,” kata Lulu Jamaludin, selaku admin konten Komunitas BJS.

Menurut catatan, Pilkada Kota Serang diikuti dengan tiga palon masing-masing Vera-Nurhasan bernomor urut 1, Samsul-Rohman nomor urut 2 dan Syafrudin-Subadri Ushuludin bernomor urut 3. Vera-Nurhasan menggunakian tagline Menuj Kota Serang Catik, Samsul-Rohman bertagline Berani Unggul Yakin Amanah (Buya) dan Syafrudin-Subadri menggunakan taglien Aje Kendur.

Baca: Panwaslu Buka Pendaftaran Pengawas Kelurahan dan Desa di Pandeglang

“Sebenarnya kami merasa keberatan, karena nanti dianggap masyarakat bahwa BJS ini berafiliasi dengan salah satu paslon, yah sebenarnya keberatan gitu kan, tapi kan dari KPU sendiri, dan dari Panwaslu sudah menetapkan spanduk salah satu paslon menggunakan Aje Kendor. Makanya setelah beres Pilkada ini kita menggunakan aje kendor lagi,” ujarnya.

Syaeful Bahri, Komisioner KPU Banten mengatakan, setiap komunitas itu bagian dari sasaran sosialisasi tersendiri. Pasalnya setiap komunitas mempunyai ikatan sosial yang hebat, dan ikatan itu sendiri akan menjadi daya dukung tambahan serta fatner mensukseskan setiap perhelatan pesta demokrasi berlangsung.

“Dengan komunitas ini muncul harapan komunitas, sikap komunitas, seperti pertanyaan cerdas tadi, “pak bagaimana tadi kalau kita tidak yakin dengan calon itu  kedepan, yah dari pada tidak bisa membawa asfirasi mending kita tidak milih sajah.” Nah inikan jadi terdetek sama kita sebagai penyelenggara, jadi kita harus mengkaper mereka,” ujarnya.

“Kami berharap masyarakat jangan sampai kehilangan kepercayaan terhadap kandidat, kandidat juga harus mulai menyadari dan mengubah diri agar masyarakat tidak kehilangn kepercayaannya, sehingga berakhir golput, kan berbahaya,” tambahnya. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait