KolomOpini

Mencapai Komunitas Masyarakat Pesisir Siap Tsunami

Pada tanggal 5 Desember 2017, PBB mendeklarasikan Dekade Ilmu Kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Decade of Ocean Science for Sustainable Development) akan diselenggarakan dari tahun 2021 hingga 2030 (Ocean Decade – tsunami).

Pada Juni 2022, IOC Assembly menyetujui pembentukan Program Ocean Decade Tsunami IOC. Tujuan dari Program Tsunami Ready ini adalah untuk menjadi kontributor utama dalam mencapai luaran untuk lautan yang aman saat Ocean Decade.

OLEH: ENDRA GUNAWAN DAN ARDHANA RISWARIE *)

Setidaknya hingga Juli 2022, dari seluruh wilayah di dunia yang rawan terhadap tsunami, sudah ada 29 komunitas Tsunami Ready yang diakui oleh UNESCO-IOC.

Dari total jumlah tersebut, Indonesia hanya memiliki satu pengakuan untuk komunitas masyarakat Desa Tanjung Benoa, Bali. Pengakuan dari UNESCO-IOC itu pun baru diterima pada 28 Mei 2022.

India memiliki dua komunitas masyarakat di Noliasahi dan Venkatraipur. Kedua wilayah tersebut terletak di India bagian timur, menghadap zona megathrust Sunda di bagian barat Sumatra.

Kejadian tsunami sebagai bencana ikutan dari gempa Aceh tahun 2004 menunjukkan kedua komunitas masyarakat di India tersebut sudah sangat tepat dalam menjadikan wilayahnya mendapatkan pengakuan Tsunami Ready dari UNESCO-IOC.

Untuk negara di Kepulauan Pasifik, hanya Samoa yang memiliki satu komunitas masyarakat terkonfirmasi.

Selanjutnya kalau kita lihat negara-negara di Amerika Latin, ternyata mayoritas sudah mendapat pengakuan komunitas Tsunami Ready dari UNESCO-IOC.

Guatemala mendapat pengakuan untuk dua komunitas masyarakat yang menghadap ke arah barat yang berpotensi terhadap kejadian gempa dan tsunami dari megathrust di bagian barat benua America.

Demikian juga dengan Honduras yang memiliki tiga komunitas masyarakat terkonfirmasi, El Savador dengan dua komunitas masyarakat terkonfirmasi, Nicaragua dengan dua komunitas masyarakat terkonfirmasi.

Costa Rica dengan enam komunitas masyarakat terkonfirmasi dan satu komunitas masyarakat masih dalam proses pengakuan, dan Ekuador yang terdapat tiga komunitas masyarakat masih dalam proses pengakuan.

Untuk negara-negara di Kepulauan Karibia, sepuluh komunitas masyarakat sudah mendapat pengakuan, dan satu komunitas masih dalam proses.

Menjadikan suatu wilayah mendapat pengakuan komunitas Tsunami Ready dari UNESCO-IOC, tentu akan dapat memberikan dampak positif untuk wilayah tersebut.

Setidaknya ada beberapa hal positif yang bisa dirasakan oleh komunitas masyarakat tersebut. Pertama, komunitas masyarakat akan dapat mengetahui adanya potensi tsunami di wilayahnya. \\

Informasi ini didapatkan dari pemodelan sumber gempa, untuk kemudian dilanjutkan dengan pemodelan tsunami yang dapat berdampak pada wilayah tersebut. Artinya, komunitas masyarakat akan mengetahui tinggi rendaman tsunami diwilayahnya.

Kedua, jumlah orang yang ada di wilayah tersebut beserta dengan informasi sumber daya ekonomi, politik dan sosial yang menopang wilayah itu akan tercatat dengan baik. Informasi ini sangat krusial, mengingat sumber daya tersebut akan menopang wilayah tersebut saat terjadi bencana gempa dan tsunami.

Ketiga, masyarakat akan mengetahui potensi tsunami dari informasi publik yang ada di wilayahnya, beserta dengan peta evakuasi yang disusun oleh komunitas masyarakat itu sendiri. Artinya, komunitas masyarakat terlibat dalam penyusunan peta tersebut, walaupun dalam penyusunannya akan tetap memerlukan pendampingan oleh para ahli.

Keempat, berkaitan dengan pendidikan, maka pengembangan materi pendidikan dan pelaksanaan kegiatan pendidikan akan rutin dilaksanakan paling tidak 3 kali per tahun. Hal ini juga akan berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan tsunami yang perlu dilakukan paling tidak 2 kali per tahun dan didukung oleh adanya SOP (Standard Operating Procedure) tsunami.

Pelatihan tsunami, atau tsunami drill, ini sangat penting dilaksanakan untuk wilayah terdampak gempa dan tsunami (Practise makes perfect).

Dalam hal bencana, memperkecil kepanikan melalui insting ataupun refleks dalam bertindak saat terjadi bencana gempa dan tsunami untuk melakukan penyelamatan diri adalah hal yang sangat krusial.

Kelima, komunitas masyarakat mampu untuk mendukung pelaksanaan tanggap darurat tsunami, beserta dengan kemampuannya menerima peringatan dini tsunami dan menyampaikan peringatan dini tersebut ke publik.

Artinya, informasi saat tsunami terjadi akan tersebar secara luas ke masyarakat melalui jalur peringatan dini yang tepat dan akurat sehingga memperkecil peluang hoaks berkembang luas di masyarakat.

Tentu saja, untuk mendapatkan informasi-informasi pendukung tersebut di atas, komunitas masyarakat dapat meminta kepada ahli pemodelan gempa dan tsunami, atau kepada BMKG, atau kepada instansi lainnya yang dirasa mampu menyediakan informasi tersebut di atas.

Sebagai contoh, wilayah Panggarangan dan sekitarnya, yang terletak di pesisir pantai selatan Lebak, Banten, merupakan suatu wilayah yang berpotensi akan mendapatkan tsunami setinggi 20 m sekiranya gempa dengan magnitudo 8,9 terjadi di megathrust Jawa.

Setidaknya, hasil tulisan ilmiah yang dipublikasikan di Scientific Reports di tahun 2020 oleh Sri Widiyantoro dkk menunjukkan hal tersebut.

Wilayah Lebak dengan tinggi tsunami 20 m tersebut adalah wilayah tertinggi apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya di pesisir Jawa.

Apabila dibandingkan dengan kejadian gempa dan tsunami lainnya yang sudah terjadi, tinggi tsunami 20 m itu akan sama dengan tinggi tsunami di Aceh saat kejadian gempa dan tsunami tahun 2004.

Lavigne dkk di tahun 2009 memublikasikan naskah ilmiah yang menyatakan bahwa tinggi tsunami di Banda Aceh saat tsunami terjadi adalah antara 15-20 m.

Artinya, kemungkinan tinggi tsunami yang dapat terjadi di wilayah pesisir selatan Lebak akan sama, atau bahkan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tinggi tsunami yang sudah terjadi di pesisir pantai Banda Aceh.

Wilayah pesisi Lebak bukannya tanpa industri. Industri nasional berupa semen misalnya, yaitu PT. Cemindo Gemilang Bayah, berada tepat di wilayah ini. Padahal, industri semen merupakan salah satu objek vital nasional.

Sudah selayaknya bahwa wilayah yang rawan tsunami secara rutin melakukan pelatihan evakuasi apabila gempa dan tsunami terjadi.

Satu hal yang harus menjadi perhatian khusus di sini adalah kepedulian komunitas masyarakat terhadap potensi bencana gempa dan tsunami yang dapat terjadi di wilayahnya sendiri.

Tidak mudah untuk komunitas secara mandiri terus meningkatkan kapasitas untuk senantiasa bersiapsiaga, jika mereka tidak memiliki tools yang dibutuhkan.

Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah memahami fenomena alam secara saintifik, menggali kearifan lokal terkait respon bencana yang sudah ada di masyarakat, dan mengemas keduanya melalui ekspresi seni sehingga pengetahuan tersebut menjadi relevan bagi mereka hingga terus langgeng dalam keseharian komunitas itu.

Komunitas masyarakat ini juga hatrus mampu menggandeng pihak lain untuk dapat mendukung pemenuhan indikator Tsunami Ready dari UNESCO-IOC, seperti misalnya BMKG.

Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pemenuhan indikator Tsunami Ready dari UNESCO-IOC sehingga dapat membangun masyarakat yang tangguh melalui strategi kesadaran dan kesiapsiagaan yang akan melindungi nyawa dan harta benda dari bencana tsunami.

Hal-hal ini lah yang dapat dijadikan contoh bagi masyarakat pesisir di Indonesia, agar kesadaran masyarakat akan potensi bahaya gempa dan tsunami yang berdampak ke wilayahnya dapat terus ditingkatkan. (***)

*) Penulis

Dr. Ir. Endra Gunawan, S.T., M.Sc, Dosen Kelompok Keahlian Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung.

Ardhana Riswarie, S.Sn., M.A, Kelompok Keahlian Estetika dan Ilmu-ilmu Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

SELENGKAPNYA
Back to top button