Ikhsan AhmadPemerintahan

Mana Yang Ada Lebih Dulu: Domba Atau Dinosaurus

Mana yang lebih dahulu ada? Domba atau Dinosaurus? Mengapa domba tidak tunduk pada hukum evolusi? Beliau masih sama bentuknya saat mendengar kisah anak-anak Nabi Adam AS dan pada masa sekarang.

Pertanyaan ini sebenarnya bisa dijawab baik secara ilmiah maupun dalam perspektif agama, tetapi dalam konteks kegagapan para penyelenggara pemerintahan.

Oleh: IKHSAN AHMAD *)

Pertanyaan tersebut menjadi simbol atas pertanyaan mana yang lebih dulu ada dalam penyelenggara pemerintahan, jabatan yang mengedepankan pengabdian atau pengabdian hanya dapat berjalan ketika menjabat?

Mengapa slogan dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung menjadi petunjuk utama yang menampakkan realitas tunduk kepada kekuasaan yang dapat memberikan kesempatan pertemuan dengan jabatan dan berkah jabatan tersebut untuk diri, keluarga dan kelompok yang disimbolkan dengan kepentingan masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Menjawab mana lebih dahulu, domba atau dinosaurus menampakkan kegelisahan yang semakin nampak pada keresahan yang tidak bisa lagi disembunyikan.

Domba dan Dinosaurus, keduanya sekaligus ada dalam kepala, sehingga sulit membedakan mana kanan dan mana kiri.

Ketika berdiri di kanan, ternyata ada di sebelah kanan paling kiri, itupun kirinya di ujung paling kanan. Begitu pula yang berdiri di sebelah kiri, ada di kirinya paling kanan sebelah kiri, kirinya tengah. Itu baru persoalan kanan – kiri.

Belum lagi membedakan mana benar dan salah. Nampak tak berujung. Semua khawatir jika kebenaran dapat ditempatkan pada tempatnya maka akan memperlambat proses kehidupan karir dan jabatan.

Semua merasa tak bersalah jika kesalahan memberikan keberkahan kepada diri maupun secara kolektif.

Pertanyaan mana yang dibutuhkan dalam reformasi birokrasi, apakah keputusan politik atau mengubah budaya organisasi. Jawabannya ternyata tidak terletak pada dua pilihan jawaban tersebut.

Tetapi pada bagaimana melepas kebingungan diri yang tidak bisa tegak tanpa dukungan pijak kekuasaan.

Sandera menyandera menjadi permainan yang mengasyikkan untuk menggemukkan atau menguruskan kata reformasi.

Di bawah berarti diinjak dan di atas berarti menginjak. Posisi di tengah artinya kondisi dimana kemampuan analisa untuk berpihak kepada pemenang menjadi faktor yang menentukan; menjilat atau dijilat.

Peraturan dan perundangan-undangan bergentayangan bersama mitos dan fakta aturan lain yang tidak tertulis dalam birokrasi.

Aturan dan mengakali aturan bagai dua sisi mata uang yang bisa digunakan untuk melihat persoalan.

Masalahnya siapa yang menggunakan kedua sisi mata uang tersebut? Bukan levelitas komponen birokrasi yang di bawah.

Persoalan kaum bawah adalah bagaimana mencari tangga naik ke atas, persoalan kaum atas adalah bagaimana menjaga kelanggengan posisinya, persoalan lain di sela-sela agenda rutin harian setiap kepala dalam birokrasi tersebut adalah persoalan sesembahan, kepada siapa dipersembahkan agar memberi makna perubahan yang sesungguhnya.
Bisa jadi sesembahan diberikan dalam rangka menjegal rival. Apakah ada persoalan lain yang signifikan dan begitu penting dalam reformasi birokrasi?

Reformasi birokrasi telah menjadi orchestra yang dimainkan ketika dibutuhkan untuk menjaga labelitas integrasi dan profesionalitas birokrasi yang tak pernah sanggup mengurus integritas dan profesionalitasnya secara internal.

Lalu kemana birokrasi berjalan dan akan menuju, jawabnya tentu saja tidak bisa dimintakan dari pemimpin birokrasi. (***)

*) Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik yang sehari-hari merupakan dosen FISIP Untirta.

Ikhsan Ahmad

Back to top button