Ikhsan AhmadPublik

Rombongan Belajar Adalah Rombongan Kualitas ?

Ketika “tumpukan” kuantitas diharapkan menjadi lapisan kualitas. Mungkinkah? Kita tidak sedang bicara “kue lapis”, tetapi bicara dunia pendidikan. Mengapa tidak berpikir menyebar rombongan kualitas dalam sebaran kuantitas.

OLEH: IKHSAN AHMAD *)

Apalagi membasiskan diri pada internet, dimana siswa dapat mengakses informasi dan pengetahuan di dalamnya tanpa batas dan tanpa guru. Itu juga kalau ada perangkat dan kuotanya. Jadi apa yang dikejar?

Jumlah orang yang pernah sekolah agar menjadi statistik Angka Partisipasi Sekolah atau orang yang memiliki kualitas pikir dan sadar akan probabilitas konstitusi untuk hidup layak dan nyaman? Jangan-jangan yang sedang dikejar adalah klaim keberhasilan seorang pemimpin agar bisa jual beli masa depan?

Mengapa jumlah rombongan kelas (rombel) untuk sekolah negeri saja yang dikejar? Karena konon kabarnya para orang tua mengejar sekolah negeri.

Ada apa dibalik sekolah negeri? Murah? gengsi? kualitas? Bagaimana kalau swasta dibuat murah, bergengsi dan berkualitas?

Dimana rombel menjadi lapisan yang tersebar dengan standarisasi dan terminologinya. Tumpukan kuantitas yang hendak di susun bertumpuk di sekolah negeri saja adalah diskriminatif.

Mengapa pendidikan untuk tunas-tunas bangsa terdikotomi dalam bentuk negeri dan swasta? Inikah yang disebut usulan? Sebuah gagasan? Berbedakah bentuk kepala seorang siswa ketika sekolah di sekolah negeri atau swasta?

Jadikan swasta mahal menjadi murah tanpa menurunkan kualitas. Swasta “ecek-ecek” dibuat berkualitas dengan biaya murah. Sekolah negeri ditingkatkan kualitasnya dengan kejujuran.

Belum tahu caranya? Wani piro?

Standar ruang dan waktu dalam pendidikan tidak boleh berbeda, apalagi “membunuh” ruang kelas yang sepi karena tidak diberikan waktu untuk berkembang menjadi rombongan kualitas.

Pendidikan mesti menggembirakan dan menceriakan, meluaskan isi kepala, bukan melahirkan kekhawatiran dan ketakutan.

Pendidikan adalah nirwana yang indah, dipayungi pengetahuan, permata peradaban, melahirkan orang-orang yang hanya boleh disandingkan kesholehan, kecerdasan dan kehendak bebasnya dengan malaikat dan iblis bukan dengan Pithecanthropus Erectus.

Upaya menumpuk rombel di sekolah negeri saja mesti dicurigai sebagai ketidakmampuan dan kebuntuan dunia pendidikan terhadap kualitasnya yang berlindung pada “angka besaran” lainnya untuk menutupinya.

Seperti kecurigaan orang tua ketika melihat beberapa lembar print out nilai raport anaknya tertulis dengan nama siswa lain yang bukan anaknya dengan penilaian yang sama, copy paste nilai.

Sejauhmana dunia pendidikan “negeri di atas awan” dapat berubah menjadi lebih berkualitas? Sejauh para pemimpin negeri dapat membedakan pabrik dengan ruang belajar.

Pendidikan mesti membebaskan untuk memilih keyakinan atas sebuah kebenaran yang dipertahankan dalam nilai dan sikap, bukan sekedar postulat.

Zaman telah berubah, siswa bukan selembar kertas kosong yang bisa di isi dengan tulisan apapun, apalagi ditumpuk dengan tulisan. Sedari awal seorang anak memiliki catatannya sendiri tentang kebenaran, budaya yang akan membentuknya. (**)

*) Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik dan Dosen FISIP Untirta.

Ikhsan Ahmad

Back to top button