Banten Tanah Titipan

Ali Fadillah
Foto: Istimewa

Oleh: Moh Ali Fadillah *)

Sembilan belas tahun perjalanan Provinsi Banten terlalu riskan untuk bisa dipahami secara keseluruhan. Sekalipun hanya sesaat, selalu menyajikan untaian ragam bentuk kebudayaan dengan segala kompleksitasnya. Refleksi alam dan manusia yang tertangkap pancaindera terkadang berada dalam kohabitasi harmonis, dimana satu dan lainnya saling beradaptasi. Namun, kerap pula saling menundukkan.

Dalam seluruh fase sejarah umat manusia, Banten adalah ruang dan waktu yang mewarisi berbagai peristiwa penting, dan merefleksikan mentalitas dalam ujud gagasan, perilaku dan budaya material, memberi karakter pada peradaban yang sebagian masih aktual dalam konteks modern. Provinsi Banten kini, telah mewarisi masa silam, sekurang-kurangnya sejak Milenium pertama sebelum Masehi sampai awal abad XXI sekarang. Skema kronologis pastilah bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan juga sebuah bingkai peradaban yang membalut dinamika masyarakatnya, yang tak pernah berhenti mengalami transformasi.

Nilai dan norma warisan itu sekarang menjadi penting dalam konteks kebangkitan sebuah new society, di tengah-tengah pergaulan dan sekaligus pergumulan berbagai kelompok pembawa identitas budaya di Provinsi Banten yang kian majemuk. Masalahnya sekarang bagaimana kita sebagai “pewaris”, mampu mengaktualisasikan kembali berbagai fenomena sejarah itu dalam kekinian. Maka pengkajian, pelestarian dan pemberdayaan warisan alam dan budaya mestinya menjadi solusi fundamental untuk memposisikan diri sebagai anak bangsa yang beradab dan berkembang di atas dasar-dasar kebudayan sendiri.

Oleh karena itu, bagaimana kita sekarang dapat mengidealisir konsep “kekitaan” Banten dalam ruang priomordial atau instrumental, adalah persoalan etnisitas yang harus segera dirumuskan kembali dalam konteks nasionalitas Indonesia. Maka persoalan paling mendasar yang dihadapi “Orang Banten” sekarang adalah bagaimana kita mampu menyusun fondasi yang kokoh bagi terwujudnya tatanan civil society yang semakin hari semakin beragam. Sayangnya berbagai konsepsi sering tidak mudah diaplikasikan ke dalam bentuk praksis. Mentalitas Banten dalam berbagai dimensi bentuk, ruang dan waktu seolah tetap menjadi sesuatu yang hanya bisa dirasakan tetapi sukar ditampakkan dalam optik empiris.

Kekitaan “Banten”

Banyak perjalanan dilakukan sudah, menyusur garis pantai atau menerobos hutan pegunungan, namun hitungan hari baru membuat kita “mengenali” sampul dari lembaran-lembaran “buku” Banten. Sementara struktur terdalam dari mentalitas Banten masih terlalu sulit ditampakkan, alih-alih dihayati, sekadar untuk dipahami pun masih terselubung berbagai mitos dan romantisme dalam perangkap ekonomi politik untuk kepentingan sesaat.

Baca:

Lantas bagaimana kita dapat menemukan “arti” dari entitas Banten dalam konteks kekinian? Tidaklah mudah menjawab pertanyaan itu. Namun bukankah melakukan hal-hal kecil adalah juga upaya kongkrit untuk sampai pada pemahaman. Bahwa modernisasi yang sering tak mengenal kompromi, menjadi tema penting untuk dipikirkan. Namun, bukankah kita selalu menemukan kesulitan untuk menggali nilai-nilai universal itu, ke dalam tatanan masyarakat yang masih memegang teguh nilai dan tradisi.

Dalam berbagai teori kebudayaan, selalu didengungkan bahwa setiap kebudayaan memiliki resistensi sendiri, tetapi gejala globalisasi mulai membalikkan keadaan, bukan kebudayaan yang membentuk mentalitas, tetapi kekuatan ekonomilah, bahkan juga politik yang menentukan arah kebudayaan. Gejala cultural shock, atau inferiority complexe pada akhirnya bukan semata ditimbulkan oleh masuknya unsur budaya “asing”, tetapi modernisasi yang diaplikasikan melalui industrialisasi, yang bisa jadi tak-terkendali, kini potensial membuat kedua nilai menjadi konfrontatif.

Padahal kita mafhum bahwa modernisasi tidak semata diterjemahkan dengan pembangunan fisik, tetapi sebagai instrumen bagi terbentuknya sebuah “masyarakat baru” atas dasar local wisdom yang menjadi referensi jati diri. Dengan begitu, penghargaan pada ecosystem budaya Banten, harus selalu didasari asumsi bahwa peradaban mana pun senantiasa terbangun dari “dalam”, sebagai cerminan daya hidup masyarakat, sedangkan faktor “luar” hanya sebatas stimulan terjadinya perubahan.

“Lorong Waktu”

Dari sudut pandang ini, kebudayaan Banten dapat dikonsepsikan sebagai idealisasi cita pikir dan karya masyarakat dari hasil proses adaptasi alam dan akulturasi yang menembus “lorong waktu“ dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Proses itulah yang telah dan akan terus memberi nafas pada kebudayaan Banten. Masalahnya, sejauhmanakah kita mengenali kembali tahapan-tahapan perubahan itu, yang mungkin sudah berlangsung sejak zaman nirleka, kemudian berlanjut ke masa lebih kontemporer: mengalami apa yang dikategorikan zaman Hindu-Budha, era perkembangan kesultanan, sampai masa kolonial Belanda dan Jepang yang singkat.

Di sini pula, tidak dapat disangkal, era Kemerdekaan telah memberi bobot tersendiri bagi pembentukan negara bangsa, dan akan terus mewarnai budaya antar-etnik dalam wadah Provinsi Banten yang mencakup wilayah bekas Keresidenan Banten. Pastilah pengalaman sejarah itu masih hidup dalam kenangan dan terpelihara dalam ingatan kolektif orang Banten sekarang. Jika colective memory selalu menjadi referensi identitas masyarakat modern, bukankah sekarang penting artinya membangkitkan kesadaran sejarah bagi peningkatan kualitas hidup orang Banten. Dari sinilah raison d’être Banten. Alasan keberadaan mestinya bermula.

Namun semua kepentingan itu akan terpulang kembali kepada kita, para pengambil keputusan, kalangan teknokrat dan juga para pelaku ekonomi yang tiada henti melakukan aktivitasnya. Kepada kitalah pada akhirnya Banten akan menuntut tanggung jawab, mampukah kita memanfaatkan warisan Banten itu sambil terus memelihara dan mengembangkannya bagi keperluan intra-generasi ataupun antar-generasi.

Perjalanan menapaki warisan alam dan budaya, semestinya tidak berhenti pada daya tarik sesaat, pada berbagai reportase jurnalistik dan untaian kata puitis sang pujangga, atau pada keagungan citra fotografis. Perjalanan mestinya menstimulan perenungan, pemikiran dan tindakan untuk tetap menggelorakan pelestarian, karena di dalam konsep pelestarian terkandung resonansi pengembangan segala sumberdaya, yang meniscayakan keseimbangan harmonis antara alam, masyarakat dan Sang Pencipta.

Perjalanan, dari prospektif ini, menjadi pijakan pertama bagi pencerahan. Maka tak ada salahnya kita bercermin pada keberhasilan Eropa keluar dari zaman kegelapan, dengan diawali minat besar pada pengkajian elemen-elemen modernitas pada Kebudayaan Yunani, Romawi dan dunia Islam. Lantas, mengapa tidak, semangat renaisans itu dimulai dengan langkah-langkah kecil; mengenali segala potensi Banten, “tanah titipan”. Banten adalah warisan kita. Sudah tentu warisan dunia juga. (*)

*) Penulis adalah anggota Banten Heritage

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait